![]() |
| Ilustrasi | Foto AI Canva |
Ketika Hati Salah Menaruh Kepercayaan Kepada Seseorang yang Dicintai
Di bangku kuliah, cinta Ijal dan Nara tumbuh sederhana, tapi penuh arah. Ijal dikenal sebagai pria pekerja keras. Pagi kuliah, siang hingga malam ia bekerja, demi satu tujuan—masa depan yang lebih baik, dan suatu hari, menikahi Nara.
Mereka pernah berjanji, setelah semuanya siap, mereka akan bersama dalam ikatan yang sah.
Namun waktu tidak selalu berjalan seiring dengan hati manusia.
Di sekitar Ijal, satu per satu temannya mulai menikah. Undangan datang silih berganti. Obrolan tentang rumah tangga makin sering terdengar. Tanpa disadari, hati Ijal mulai goyah. Bukan karena ia tidak mencintai Nara, tapi karena ia mulai merasa tertinggal.
“Aku capek nunggu, Na… aku pengen kita segera nikah,” ucap Ijal suatu malam.
Jawaban itu tidak menenangkan Ijal. Justru membuatnya merasa seperti berjalan sendiri.
Tanpa banyak bicara lagi, Ijal mengambil keputusan besar—ia akan datang melamar.
Tanpa persiapan matang, tanpa pemberitahuan yang jelas, Ijal dan keluarganya datang ke rumah Nara di waktu yang tidak tepat. Saat itu, orang tua Nara sedang bekerja, kondisi rumah belum siap menerima tamu besar, apalagi untuk urusan penting seperti lamaran.
Bukan penolakan, bukan juga ketidakhormatan. Hanya waktu yang tidak berpihak.
Namun keluarga Ijal melihatnya berbeda. Mereka merasa tidak dihargai.
Kekecewaan itu cepat berubah menjadi keputusan.
Hari itu, tanpa banyak penjelasan, keluarga Ijal pulang dengan perasaan yang tidak utuh. Ijal pun ikut pergi, membawa luka yang sebenarnya bisa dijelaskan—jika saja ia mau menunggu.
Beberapa waktu kemudian, kabar itu sampai ke telinga Nara.
Nara terdiam. Hatinya hancur, bukan karena kehilangan semata, tapi karena janji yang dulu mereka jaga, ternyata kalah oleh ketidaksabaran.
Hari-hari berlalu. Nara tetap melanjutkan kuliahnya, berusaha menata kembali hidupnya. Di setiap langkahnya, ada kenangan tentang seseorang yang pernah begitu ia percaya.
Sementara di tempat lain, Ijal menjalani hidup yang ia pilih—cepat, pasti, tapi mungkin tanpa benar-benar selesai dengan masa lalunya.
Dan kisah mereka menjadi satu pelajaran yang diam-diam menyisakan makna—

0 Komentar