![]() |
| Ilustrasi | Foto AI Canva |
Kebaikan yang Tak Selalu Dibalas
Ilham adalah tipe orang yang sulit berkata “tidak”.
Sejak dulu, ia percaya bahwa kebaikan sekecil apa pun akan kembali suatu hari nanti. Jadi, ketika teman-temannya mengeluh lapar, Ilham yang pertama mengajak makan. Saat ada yang kehabisan uang, Ilham diam-diam membantu. Bahkan ketika dirinya sendiri sedang pas-pasan, ia tetap berusaha ada untuk orang lain.
Awalnya, semua terasa tulus. Ia bahagia melihat orang lain tersenyum.
Namun, perlahan Ilham mulai menyadari sesuatu.
Ada orang-orang yang datang hanya saat butuh. Chat yang dulu terasa hangat, kini terasa seperti pola—datang, meminta, lalu menghilang. “Ham, lagi di mana?” diikuti dengan, “Boleh traktir nggak?” atau “Lagi bokek nih, temenin makan ya.”
Ilham tersenyum, seperti biasa. Ia mengiyakan.
Tapi di dalam hatinya, ada yang mulai lelah.
Suatu malam, ia duduk sendiri di warung kecil. Tidak ada yang menemaninya. Tidak ada yang mengajaknya. Untuk pertama kalinya, ia makan sendirian tanpa membelikan siapa-siapa.
Ia membuka ponselnya. Sepi.
Tidak ada pesan masuk.
Di situlah ia mengerti—tidak semua orang yang datang itu peduli. Beberapa hanya singgah karena kebutuhan.
Air matanya jatuh pelan. Bukan karena ia menyesal telah berbuat baik, tapi karena ia merasa… tidak pernah benar-benar dianggap.
“Kenapa ya, kalau aku yang butuh, nggak ada yang datang?” gumamnya.
Namun di tengah kesunyian itu, Ilham teringat satu hal—ibunya pernah berkata, “Nak, jadi baik itu penting. Tapi jangan sampai kamu lupa menjaga dirimu sendiri.”
Malam itu, Ilham belajar sesuatu yang tidak pernah ia pahami sebelumnya.
Bahwa menjadi baik bukan berarti harus selalu mengorbankan diri. Bahwa peduli tidak berarti harus selalu memberi tanpa batas.
Keesokan harinya, saat ada pesan masuk seperti biasa—“Ham, traktir dong”—Ilham menatap layar lebih lama dari biasanya.
Tangannya sempat gemetar. Tapi setelah pesan itu terkirim, ia menarik napas panjang.
Aneh, tapi dadanya terasa lebih lega.
Ilham tidak berhenti menjadi orang baik. Ia tetap membantu, tetap peduli. Tapi kini, ia mulai memilih—siapa yang benar-benar tulus, dan mana yang hanya datang saat butuh.

0 Komentar