![]() |
| Ilustrasi | Foto AI Canva |
Di Antara Waktu dan Kesabaran, Namun Cinta Mereka Akhirnya Selesai
Dina tidak pernah main-main soal perasaan. Saat ia memilih mencintai Doni, itu berarti ia siap menjaga, bukan hanya hubungan, tapi juga masa depan mereka berdua.
Doni pun dulu begitu—datang dengan keseriusan, membawa janji tentang rumah kecil, kehidupan sederhana, dan hari tua bersama. Namun waktu berjalan, dan sesuatu dalam diri Doni berubah. Ia ingin semuanya cepat. Termasuk pernikahan.
“Aku ingin kita segera menikah,” kata Doni suatu malam, suaranya tegas.
Dina terdiam sejenak. Bukan karena ia tidak mau, tapi karena ia punya mimpi yang belum selesai. Pendidikan yang sedang ia jalani bukan sekadar keinginan, melainkan jalan untuk masa depan yang lebih baik.
“Aku juga ingin sama kamu… tapi beri aku waktu. Aku ingin selesaikan pendidikanku dulu,” jawab Dina pelan.
Namun Doni tak benar-benar mendengar. Baginya, cinta harus dibuktikan sekarang, bukan nanti. Ia mulai melihat penundaan sebagai penolakan, kesabaran sebagai ketidakpastian.
Hari demi hari, perdebatan kecil berubah jadi jarak yang nyata. Dina tetap bertahan dengan keyakinannya, sementara Doni semakin yakin bahwa ia tidak ingin menunggu lebih lama.
Sampai akhirnya, keputusan itu datang.
“Aku nggak bisa terus nunggu,” kata Doni singkat.
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menghancurkan banyak hal yang telah mereka bangun bersama.
Dina tidak marah. Ia hanya diam, dengan hati yang perlahan retak. Bukan karena ia tidak mencintai Doni, tapi karena cintanya justru membuatnya ingin bertahan pada mimpinya.
Mereka pun berjalan ke arah yang berbeda.
Doni memilih jalan yang cepat, mencari kepastian tanpa jeda.
Dina memilih bertahan, mengejar masa depan yang ia yakini akan membawa cahaya.
Waktu berlalu.
Dina perlahan meraih apa yang ia perjuangkan. Namun di sela keberhasilannya, masih ada ruang kecil yang mengingat seseorang yang dulu pernah ia perjuangkan sepenuh hati.
Bukan karena ia belum bisa melupakan, tapi karena ada satu hal yang selalu ia pahami—
Kadang, yang pergi bukan karena tidak cinta.
Tapi karena tidak sabar menunggu cinta tumbuh dengan cara yang benar.
“Segala nama, tokoh, dan tempat dalam cerita ini hanyalah fiksi. Jika terdapat kesamaan, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja.”
.png)
0 Komentar