![]() |
| Ilustrasi | Foto AI Canva |
14 April: Harapan yang Tak Sepenuhnya Datang
Namanya Alin. Sejak awal bulan April, ia sudah menandai kalendernya dengan lingkaran merah besar di tanggal 14. Baginya, hari itu bukan sekadar ulang tahun—itu adalah hari di mana ia berharap merasa benar-benar dilihat.
Setiap malam sebelum tidur, Alin membayangkan hal yang sama. Teman-temannya datang diam-diam, membawa kue dengan lilin menyala. Ruangan gelap, lalu tiba-tiba lampu menyala dan semua orang berteriak, “Selamat ulang tahun!” Ia tersenyum sendiri setiap kali membayangkannya.
Ia mulai lebih aktif menyapa teman-temannya, membalas chat dengan cepat, bahkan sesekali mentraktir mereka. Dalam hatinya, ia berpikir, mungkin mereka sedang menyiapkan sesuatu.
Tanggal 14 April pun tiba.
Alin bangun lebih pagi dari biasanya. Ia mengecek ponselnya—tidak ada notifikasi spesial, hanya beberapa pesan biasa. Ia mencoba tersenyum, “Mungkin nanti,” pikirnya.
Di sekolah, ia sengaja berjalan lebih pelan, berharap ada yang memanggilnya, memberi kejutan kecil, atau setidaknya mengucapkan selamat. Tapi hari berjalan seperti biasa. Tawa teman-temannya tetap ada, tapi bukan untuknya.
Hingga siang hari, hanya dua orang yang mengucapkan selamat ulang tahun. Itu pun singkat, seperti ucapan yang hampir terlupa.
Hatinya mulai terasa kosong.
“Ah, mungkin nanti sore,” ia masih mencoba berharap.
Namun hingga malam tiba, tidak ada kejutan. Tidak ada kue. Tidak ada keramaian. Hanya dirinya, duduk di kamar dengan lampu temaram.
Saat itulah ia menyadari sesuatu yang pahit—tidak semua orang mengingat apa yang begitu berarti baginya.
Air matanya jatuh pelan.
Namun di tengah kesunyian itu, pintu kamarnya diketuk.
Ibunya masuk sambil membawa kue kecil dengan satu lilin sederhana. Di belakangnya, adiknya tersenyum lebar.
“Selamat ulang tahun, ya,” ucap ibunya lembut.
Alin terdiam. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini berbeda.
Ia sadar, mungkin hari itu tidak dipenuhi banyak orang seperti yang ia bayangkan. Tidak ada kejutan besar. Tidak ada keramaian.
Tapi ada mereka—yang benar-benar peduli.
Malam itu, di depan kue kecil dan cahaya lilin yang sederhana, Alin akhirnya tersenyum.
Karena ia mengerti, kepedulian tidak selalu datang dalam jumlah banyak. Kadang, ia hadir dalam bentuk yang sederhana… tapi tulus dan nyata.
“Segala nama, tokoh, dan tempat dalam cerita ini hanyalah fiksi. Jika terdapat kesamaan, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja.”

0 Komentar