Ramadhan, Cahaya di Ujung Hati
Ramadhan datang
dengan langkah sunyi
membawa cahaya
di tengah gelapnya hati.
Ia mengetuk jiwa yang lama tertidur,
membangunkan rindu
yang hampir hilang kepada Tuhan.
Di sepertiga malam,
saat dunia masih terlelap,
kita berdiri dalam diam,
menyebut nama-Mu perlahan,
dengan air mata yang tak mampu lagi ditahan.
Lapar dan dahaga
bukan sekadar ujian raga,
melainkan pelajaran tentang sabar,
tentang menundukkan ego
yang sering kali merasa paling benar.
Ramadhan adalah pelukan hangat,
bagi hati yang lelah oleh dosa.
Ia berbisik lembut,
“Pulanglah… Allah masih menunggumu.”
Setiap ayat yang terlantun
menjadi penawar luka,
setiap sujud yang panjang
menjadi saksi taubat yang nyata.
Di waktu berbuka,
kita belajar arti syukur,
bahwa seteguk air
adalah nikmat yang tak ternilai ukur.
Ramadhan,
engkau bukan hanya tentang menahan,
tetapi tentang menguatkan.
Bukan hanya tentang ibadah,
tetapi tentang perubahan.
Semoga ketika engkau pergi,
kau tinggalkan hati yang lebih bersih,
langkah yang lebih taat,
dan jiwa yang lebih dekat
kepada Allah yang Maha Rahmat.
.jpg)
0 Komentar