Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Loker Gink Tech KLIK DISINI

Jasa CV Bayar Seiklasnya bisa hubungi 0822 - 8079 - 8313 Fast Respon

Gabung Grup WA Loker KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram Loker KLIK DISINI

Senin, September 28

OAIL ITERA Mengajak Masyarakat Amati Bulan Secara Virtual


Unit Pelaksana Teknis (UPT) Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL) menyelenggarakan pengamatan Bulan secara virtual bertajuk Satu hari lebih dekat dengan Bulan dalam rangka peringatan International Observe the Moon Night (InOMN), Sabtu (26/9).
.
.
Pengamatan Bulan secara virtual menjadi bagian dari penyesuaian karena kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. Kegiatan tersebut dilakukan selama 120 menit dari pukul 19.00 s.d 21.00 WIB yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
.
.
Kegiatan yang mengenalkan Bulan secara detail tersebut melibatkan beberapa komunitas astronomi yang ada di Indonesia melalui kerja sama antara Komunitas Astronomi Lampung (Kala) dan Forum Komunikasi Astronom Amatir Lintas Jawa Timur (Fokalis Jatim). Dalam pengamatan tersebut juga menghadirkan narasumber pegiat astronom dari Fokalis Jatim, Hairlinda Arini Agustin, S.Pd., dan moderator dari Kala, Nur Fadilah.
.
.
Kepala UPT OAIL, Dr. Hakim L. Malasan, dalam sambutannya menyampaikan kegiatan InOMN bertujuan untuk mengenalkan dan mengamati Bulan secara lebih dekat kepada masyarakat. “Saya sangat gembira OAIL ITERA bisa bekerjasama dengan komunitas-komunitas astronomi, seperti Kala dan Fokalis Jatim, untuk mengenalkan pengamatan Bulan kepada masyarakat luas,” ujar Hakim.
.
.
Hakim juga menyampaikan terima kasih kepada narasumber Hairlinda Arini Agustin yang telah bersedia memandu kegiatan pengamatan virtual, serta para peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan pengamatan Bulan tersebut.
.
.
Dalam kegiatan tersebut peserta diajak melakukan pengamatan Bulan secara virtual dipandu oleh Tim OAIL ITERA Aditya Abdillah Yusuf, S.Si. Aditya secara langsung memberikan penjelasan mengenai permukaan bulan yang tampak seperti kawah dan gunung. 
.
.
Sementara narasumber Harlinda Arini Agustin, S.Pd., menyampaikan Bulan sebagai satelit alami bumi satu-satunya, menjadi objek menarik untuk diamati. Ada tiga teori pembentukan Bulan paling tua yang pernah dikemukakan diantaranya adalah Koakresi. Teori ini berpendapat bahwa Bulan dan Bumi terbentuk pada saat yang sama dari piringan akordeon primordial (aliran gas, plasma, debu, atau partikel yang menyerupai cakram) di sekitar objek astronomi yang perlahan-lahan runtuh ke dalam.  
.
.
“Permukaan bulan sangat sering terlihat tidak rata, banyak terdapat kawah dan gunung saat diamati dari Bumi. Hal tersebut karena bulan tidak memiliki pelindung atmosfer seperti bumi, sehingga banyak benda luar angkasa yang menabrak bulan,” jelas Harlinda.
.
.
Selain iru, Bulan sangat berperan penting terhadap kehidupan di Bumi. Selain menjadi penerang di malam hari, revolusi dan rotasi Bulan sangat berpengaruh terhadap jumlah hari pada setiap bulan dikalender Hijriah, pasang surut air laut, serta fenomena-fenomena alam seperti gerhana bulan dan matahari.
Pada saat Bulan melakukan rotasi dan revolusi, maka hal ini juga menunjukkan adanya perubahan penampakan yang disebut sebagai fase bulan. 
.
.
Harlinda juga membahas, beberapa fase bulan, seperti fase bulan baru (New Moon), yakni fase saat bulan berkonjungsi dengan matahari dan bumi.  Konjungsi sendiri berarti posisi bulan searah dengan matahari. Setelah fase bulan baru, maka fase selanjutnya adalah fase bulan sabit awal atau waxing crescent. Di fase ini bulan bergerak meninggalkan titik atau posisi konjungsi-nya dengan matahari dan bagian bulan yang terkena cahaya matahari hanya kurang dari setengah sehingga disebut fase bulan sabit awal (Waxing Cresent). 
.
.
Fase lainnya adalah fase kuartal pertama yang terjadi ketika posisi bulan, bumi, dan matahari membentuk sudut 90 derajat, fase waxing gibbous, ketika permukaan bulan yang terlihat mencapai ¾ atau lebih dari permukaan bulan yang menghadap bumi, dan fase bulan purnama saat Bulan terlihat bulat sempurna karena seluruh permukaan bulan yang menghadap bumi mendapatkan sinar matahari. 
.
.
“Setelah fase bulan purnama, bulan akan bergerak ke barat meninggalkan posisi oposisi dengan Matahari dan memasuki fase wanning gibbous. Fase ini pada dasarnya sama dengan fase waxing gibbous. Fase terakhir sebelum bulan kembali pada fase bulan baru atau new moon adalah fase bulan sabit tua atau wanning crescent,” terang Herlinda. (*)

Loading...

Artikel Terkait

Comments
0 Comments