Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Loker Gink Tech KLIK DISINI

Jasa CV Bayar Seiklasnya bisa hubungi 0822 - 8079 - 8313 Fast Respon

Gabung Grup WA Loker KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram Loker KLIK DISINI

Kamis, Mei 28

Sedihnya, Ortu Sudah Biayai Anak Jadi Dokter, Hingga Berikan Uang Buat Nikah, Tapi Dibalas 'Air Tuba'




Sedihnya, Ortu Sudah Biayai Anak Jadi Dokter, Hingga Berikan Uang Buat Nikah, Tapi Dibalas 'Air Tuba'



Sedihnya, kisah orangtua ini yang sudah biayai anaknya jadi dokter, bahkan berikan uang untuk nikah, eh bukannya berterima kasih, si dokter berinisial A membalasnya dengan air tuba, mirisnya.

Melansir detik.com, dr A nyaris memukul orang tuanya dan mengumumkan di koran bila ia bukan anak orang tuanya lagi. Durhaka!

Namun demikian, kasih orang tua tidak pernah habis. Kedua orang tuanya tidak ada niat sedikit pun menginginkan anaknya masuk penjara.

"Sebenarnya klien saya tidak pernah menginginkan anak mereka masuk penjara. Mereka hanya ingin anaknya dinyatakan bersalah dan menyadari bahwa tindakan yang dia lakukan kepada kedua orang tua kandungnya tidak bisa dibenarkan dari sisi etika maupun dari kacamata hukum," kata kuasa hukum orang tua, Albert Kuhon, saat dihubungi detikcom, Rabu (27/5/2020).

Akibat perbuatan anaknya itu, kedua orang tuanya mengalami trauma mendalam. Rangkaian pilu yang bertubi-tubi itu membuat kedua orang tuanya depresi. Orang tua itu mengalami penderitaan psikis akibat konflik dengan anaknya.

"Kasus penganiayaan secara psikis memang sangat jarang dilaporkan. Kalau toh ada, penanganannya pembuktiannya cukup rumit. Pihak orang tua baru menempuh jalur hukum setelah dinyatakan putus hubungan melalui iklan akhir Mei 2017. Itu pun tidak langsung diproses, melainkan melalui upaya mediasi beberapa peluang yang tersedia," ujar Kuhon.

Sebelum sampai ke tingkat penuntutan, sudah berkali-kali ditempuh upaya perdamaian. Tetapi dr A yang sedang melanjutkan spesialis dokter itu tidak bersedia bertobat dan meminta maaf kepada orang tuanya.

"Bahkan dalam salah satu upaya perdamaian, dia berkata kepada orang yang berusaha mendamaikan bahwa bapaknya megalomaniak," ucap Kuhon.

Sejak awal kedua orang tua dr A tidak mengharapkan anaknya dipidana penjara. Yang mereka inginkan adalah dokter A dinyatakan bersalah karena telah melakukan penganiayaan secara psikis kepada orang tuanya.

Kuhon menuturkan berkali-kali menolak mendampingi kedua orang tua itu untuk melaporkan si anak ke aparat kepolisian. Penolakannya karena mengingat ikatan keluarga antara orang tua dengan anak yang mustahil dipisahkan.

Saya baru bersedia mendampingi mereka setelah munculnya iklan putus hubungan yang dipasang dokter tersebut," pungkas Kuhon.

Sebagaimana diketahui, pada 20 Mei 2020, dr A divonis Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta melakukan kekerasan psikis dalam rumah tangga sebagaimana diatur dalam Pasal 45 ayat 1 juncto Pasal 5 huruf b UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Atas perbuatannya, dr A dihukum pidana percobaan selama 6 bulan. Bila melakukan pidana di waktu itu, maka dr A harus masuk penjara selama 3 bulan ditambah dengan pidana baru yang dibuatnya.

Duduk sebagai ketua majelis Achmad Yusak dengan anggota Sirande Palayulan dan Haryono (*)

Loading...

Artikel Terkait

Comments
0 Comments