Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Loker Gink Tech Terbaru KLIK DISINI

Jasa CV Bayar Seiklasnya bisa hubungi 0822 - 8079 - 8313 Fast Respon

Gabung Grup WA Loker KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram Loker KLIK DISINI

Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com

Sabtu, September 21

Video Acara Adat Lampung Viral, Begini Tanggapan Sultan Skala Brak Pangeran Edward Syah Pernong


Video Acara Adat Lampung Viral, Begini Tanggapan Sultan Skala Brak Pangeran Edward Syah Pernong 


Video acara adat Lampung viral terkait persoalan adanya penembakan ke udara saat acara begawi adat di Lampung Utara beberapa waktu lalu, Tokoh adat Lampung Kepaksian Pernong, Sultan Kerajaan Skala Brak Kepaksian Pernong yang dipertuan ke-23, Sai Batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Edward Syah Pernong, S.H., M.H. angkat bicara.

Edwardsyah mengajak semua pihak dapat lebih jernih dalam menyingkapi permasalahan yang tengah viral beredar tersebut. Dirinya pun mengatakan, bahwa acara adat merupakan kearifan lokal, masyarakat diharapkan tidak berlebihan menyikapi video yang tengah viral tersebut, tak lantas pula berkomentar miring yang menyampaikan bahwasannya sejak kapan dinegara ini kegiatan seperti ini diperbolehkan.

“Bukan begitu, ini adalah sebuah kegiatan begawi adat, ada sebuah bagian daripada kearifan lokal masyarakat, ada sebuah bagian dari pada pilar-pilar yang menjaga kehidupan keberabadan, kedamaian masyarakat yang selama ini berjalan, masyarakat lampung tertata dengan damai karena ada nilai-nilai adat yang berjalan dan yang dihormati,” Kata Pangeran Edward Syah Pernong melalui rilis audio yang Infokyai terima, Jumat (20/9/2019).

Kapolda Lampung tahun 2015 itu menjelaskan bahwa, nilai-nilai adat mulai dari prinsip-prinsip, piil pesinggiri, sakay sembayan, nengah nyampur, bejuluk beadek tersebut merupakan pilar-pilar kearifan lokal. Lalu Pada saat adat begawi tentu akumulasi massa kehadiran massa luapan kegimbaraan emosionalitas rasa syukur ini kan muncul. Terlebih sang punya hajat menjadi seorang penyimbang.

“Dulu memang pakai dentuman meriam sampai tahun 1950 bahkan waktu putra saya Alprinse tahun 2008 dicukur di skala brak, kita minta izin karena kita akan bunyikan meriam sebanyak 13 kali atau 17 kali waktu itu. Dan ini merupakan tradisi, dentuman itu untuk menyuarakan artinya menyuarakan bahwa iya sedang menyelenggarakan sebuah kearifan lokal yang menjadi bagian tradisi yang kita pertahankan,”Ujarnya

Lanjutnya, mungkin ada euforia dari pada keluarga besar yang kebetulan anggota polisi sehingga tidak terkontrol. Ini suatu perbuatan yang mungkin saja lalai, ada langkah-langkah tindakan disiplin dari pada Wewenang Atasan Yang Berhak Menghukum (Ankum) untuk menegur dan memperingatkan karena ada suatu mekanisme didalamnya.

“Tapi kita jangan begitu viral seolah-olah ada prilaku yang salah dan menyimpang jangan terlalu kita besar-besarkan jangan terlalu kita membuat suasana dinamika masyarakat dengan perkembangannya sehingga kita di cekam dengan ketakutan,”Tuturnya (red)

Artikel Terkait

Comments
0 Comments