Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Gabung Grup What's App KLIK DISINI

Butuh Cepat di Gink Tech KLIK DISINI

Butuh Cepat di Telkomsel KLIK DISINI

Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com
Loading...

Rabu, Juni 27

Kenapa Setelah Nyoblos Jari Diberi Tinta Ungu?

Foto Ist
Kenapa Setelah Nyoblos Jari Diberi Tinta Ungu?

Infokyai.com - Setelah melakukan pencoblosan, pastinya jari anda harus dicelupkan ke dalam tinta berwarna ungu, pernahkah terlintas dalam pemikiran anda, mengapa harus dcelupkan tinta berwarna ungu? simak baik-baik penjelasannya dibawah ini. 

Dilansir infokyai.com dari dictio.id, Seperti kita ketahui, setelah melakukan pencoblosan jari kita pasti akan dicelupkan ke dalam tinta berwarna ungu. Apakah alasan mengapa setelah coblosan kita diberikan tinta ungu tersebut? Inilah beberapa alasannya:

Untuk Keamanan
Via metrotvnews.com
Jari yang berhias tinta ungu itu bukan sekadar bukti yang bisa kamu banggakan kalau kamu berpartisipasi dalam demokrasi, melainkan sebuah sistem pengaman untuk mencegah double voting ataupun hal-hal yang mengarah ke kecurangan pemilu. Prinsipnya, satu suara untuk satu identitas. Penandaan dengan tinta bertujuan untuk mencegah kemungkinan orang yang sudah nyoblos, nyoblos lagi memanfaatkan id atau undangan orang lain. Tinta ini tidak bisa hilang dalam jangka waktu tertentu. Ada yang 1 hari, ada juga yang 3 hari. Jika kamu mencoba nyoblos dua kali, pasti ketahuan petugas TPS karena jejak warna tinta masih tertinggal di jari.

Berawal dari India dan diadopsi oleh beberapa Negara di Dunia
Via wikipedia.org
Apakah hanya di Indonesia saja terdapat tradisi celup tinta setelah coblosan?. Ternyata tidak. Prosedur celup tinta sebagai bukti partisipasi pemilu ini juga digunakan oleh 44 negara lain di dunia. Di wilayah Asia Tenggara, ada Indonesia, Malaysia dan Myanmar yang menerapkannya. Metode ini awalnya dipakai di India. Pada pemilu demokratis pertamanya, India menghadapi permasalahan serius tentang pencurian identitas. Untuk mencegah satu orang memilih dua kali, mulai pada pemilu ketiga India di tahun 1962 diterapkan celup tinta di jari. Tinta yang digunakan eksklusif dari perusahaan Mysore Paints and Varnishes Ltd. Kedua perusahaan ini juga mengekspor tinta pemilu ke berbagai negara, termasuk Britania Raya dan Malaysia, dan Denmark.

Di Indonesia, tradisi celup tinta dikenal pada tahun 1999, setelah era reformasi
Via simomot.com
Pemilu pertama di Indonesia adalah tahun 1955. Metodenya kurang lebih sama seperti saat ini. Rakyat datang ke TPS, kemudian mencoblos surat suara di bilik. Namun prosedur celup tinta baru dilakukan selepas pemilu 1995. Tidak ada sumber yang jelas mengapa metode ini tiba-tiba digunakan setelah masa reformasi. Mungkin setelah terbebas dari orde baru, di mana pemilu hanya sebatas formalitas, seluruh lapisan masyarakat benar-benar ingin merasakan sensasi demokrasi yang sesungguhnya. Apalagi jumlah penduduk yang bisa memilih juga semakin banyak. Sehingga diperlukan cara-cara baru untuk membuat pemilu berjalan sebersih mungkin.

Menggunakan tinta khusus, dan ditandai sekeliling ibu jari tidak boleh berlebihan
Foto Reuters
Menilik fungsinya yang luar biasa penting, penggunaan tinta pemilu ini juga tidak bisa sembarangan. Ada prosedur ketat yang harus diikuti. Pertama, soal jenis tinta yang digunakan haruslah tinta yang terbuat dari ‘Silver Nitrate’. Bahan kimia inilah yang membuat tinta bisa bertahan hingga minimal 1 hari. Kedua, botol tinta harus dikocok dulu sebelum dipakai. Ketiga, jari harus dicelupkan hingga mengenai kuku untuk membentuk sidik jari yang bisa awet sampai tiga hari. Di Indonesia, tinta pemilu juga harus mendapat sertifikasi halal dari MUI agar tidak mengganggu syarat ibadah umat Islam.

Lalu, apa iya harus jari kelingking yang dicelup tinta? Lazimnya memang jari kelingking kiri. Namun sebenarnya kamu bisa memakai jari manapun yang kamu suka. Kalau kamu terbiasa ngupil dengan jari kelingking, maka pindahkan tintanya ke jari telunjuk. Cuma kalau kamu nekad pakai jempol, nanti apa tidak susah kalau mau ngetik di ponsel?

Di Negara maju, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan
Via dakta.com
E-voting memang sudah menjadi tanda perkembangan zaman saat ini. Namun pemilu konvensional masih menjadi pilihan utama, karena dianggap lebih aman. Buktinya banyak negara yang pernah memakai e-voting lantas kembali ke pemilu konvensional. Belanda dan Irlandia misalnya. Negara maju seperti Korea Selatan juga masih memakai pemilu konvensional. Hanya saja, rapi dan terstrukturnya data membuat penandaan via tinta tidak diperlukan. Validasi KTP dan cek sidik jari sudah bisa mengonfirmasi jati diri pemilih.

Di Amerika, alih-alih menggunakan celup tinta, mereka menggunakan sticker untuk menandai telah menggunakan hak pilih.

Di Amerika, selain bisa memilih jarak jauh melalui internet bila tidak memungkinkan datang ke TPS, kamu juga akan mendapat stiker ‘I Voted‘ bila berpartisipasi dalam pemilu. Sebagai bukti bahwa kamu sudah nyoblos, biasanya stiker ini dipasang di dada. Uniknya, banyak restoran yang menawarkan makanan gratis untuk orang-orang yang memiliki stiker ini. Itu salah satu inisiatif masyarakat untuk turut berpartisipasi mendorong warga lain untuk menggunakan hak pilihnya. Daripada demo di jalan atau memaksa, inisiatif seperti ini bisa dicontoh.

Barangkali nanti kalau kita jadi memakai sistem e-voting yang canggih dan rapi, celup tinta tidak digunakan lagi. Tapi untuk sekarang ya metodenya masih sama. Masuk bilik – coblos / contreng – celup tinta – pulang. Ah kalau sekarang sih beda sedikit alurnya. Masuk bilik – nyoblos / nyontreng – celup tinta – foto jari – upload ke media sosial – pulang. (*)

Artikel Terkait

Comments
0 Comments
Loading...