Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com

Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Follow Instagram @Infokyai KLIK DISINI

Add @LINE Infokyai KLIK DISINI

Add PIN BBM Infokyai KLIK DISINI

Add BBM Channel Infokyai KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram KLIK DISINI

Gabung Grup What's App KLIK DISINI

Loker PT Zona Plastik KLIK DISINI

Loker Gink Technology KLIK DISINI

Tuesday, April 4

Dosa Rara Yang Tak Terlupakan Karya Andi Priyadi BAB VIII

Dosa Rara Yang Tak Terlupakan Karya Andi Priyadi
Dosa Rara Yang Tak Terlupakan Karya Andi Priyadi BAB VIII

Bab 8 *Kita Sama*

Malam itu. Usai waktu Salat Magrib. Rara menulis status di BBM miliknya. Menulis kalimat tak terlalu panjang, seperti memberitahu aktivitasnya di rumah. Orang yang membaca status itu dipastikan berfikir ia sedang mengajari les privat seorang bocah.

Malam itu, Yose sedang duduk santai di bale di kawasan PKOR. Tempat Rara dan Yose sering bertemu menghabiskan waktu.

Yose membaca sepintas status BBM wanita itu dan mem-BBM nya. Menanyakan aktivitasnya malam itu.

"Aku di rumah jelek. Dapat job dari ibu ngajar les anak kelas 5 SD. Cuma satu orang,"jawab Rara membalas BBM pria yang menanyakan kondisinya malam itu.

Yose berseloroh menawarkan Rara mengajar les di rumahnya. Mengajari Bintang putera sematang wayang Yose yang lucu dengan bayaran dua kali lipat.

"Enggak ah. Kalo aku ngajarin les Bintang. Nanti aku di suruh masuk ruangan. Diajakin Ngobrol(bercumbu) kamu terus jelek,"tulis Rara membalas BBM pada Yose sembari mengajari bocah tadi.

Rara menanyakan kepribadian Bintang dan Ana. Keluarga kecil Yose, keseharian, polah, kesukaan dan lain sebagainya tentang dua orang belahan jiwa Yose.

Cukup penasaran ingin mendengar cerita Yose. Cerita sosok Ana dan Bintang. Rara mengaku ingin sekali melihat dan bertemu mereka. Karena rasa penasaran yang amat. Terlebih pada Bintang.

“Empat tahun lebih kami menikah belum pernah aku rebut. Membentaknya aja aku enggak pernah. Ia penurut lagi sabar. Dia bisa dibawa ke tengah, ke samping. Dan bisa di bawa ke pojok,”jelas Yose melalui BBM yang ditujukan pada Rara.

“Maksudnya gimana jelek,” tanya dia.

“Ana bisa dibawa ke tengah keluargaku. Semua keluargaku sayang sama dia terlebih ibu. Ibu pernah bilang. Menantu kesayangannya adalah Ana. Ibu selalu wanti-wanti aku untuk menjaga perasaan dia. Jangan disia-siain kata ibu. Di bawa ke samping maksudnya. Dia bisa menerima kesibukan aku, kesibukan aku bekerja. Sering bergaul, teman-teman aku semua dihargai Ana. Dan di bawa ke pojok maksudnya. Ana bisa diajak bercumbu(setelah menikah),”ungkap Yose.

Rara dengan Pe-De-nya meyakinkan bisa menggantikan posisi Ana jika ia bersama Bintang.

"Ooo gitu ya?. Aku juga bisa kok. Bisa kayak dia. Untuk luluhkan Bintang. Tiga harilah, aku bisa buat Bintang nurut. Aku yakin itu,"timpal Rara.

Obrolan demi obrolan berseloroh terkadang serius mengutarakan di-BBM, puluhan kali pastinya, itu satu jam tak terasa.

"Aku pengen cerita kita ini, kamu buatin novel ya jelek. Cerita kita yang unik banget, pacaran enggak ada yang tahu. Jalan nyumput-nyumput. Tapi aku nyaman, kamu pasti bisa nulis novel. Sayang kamu jelek,"ungkap Rara.

Yose tersenyum lebar membaca isi pesan itu, ia membayangkan jika kisah cintanya dituangkan dalam sebuah tulisan novel dan di filmkan.

"Ya. Nanti aku buatin novel buat cerita kita. Bila perlu dibuatin film. Kalo ada sutradara setelah baca novel kita dibuatin film. Ooo iya jelek. Aku mau kalo kita pisah nanti, kita enggak jodoh. Pisah baek-baek, kalo nanti kamu bosan sama aku, atau ada cowok yang mau deketin kamu. Aku minta kamu jujur. Kita koordinasi, aku siap mundur. Enggak kan halangi kamu. Asal kamu terbuka sama aku,"imbuh Yose.

“Kamu cowok hebat loh jelek. Kamu bisa buat aku enggak bisa berpaling dari kamu,”ungkap Rara.    

Sejenak Yose menghela nafasnya panjang-panjang memikirkan jauh kedepan khayalan bersama wanita yang ada di fikirannya. Membayangkan ia berjodoh dengan wanita itu. Ia berkhayal Rara menjadi isterinya yang kedua, terbesit fikiran buruk akan masa lalu Rara yang suram. Masa di mana ia merasa rendah di mata teman-temannya. Yose mampu melawan batinnya. Bathin positifnya menang.

"Aku sayang kamu jelek. Akan pertahanin kamu. Mau gimana pun aku enggak kan maenin kamu. Aku mau kamu perempuan terahir di kehidupan aku bersama Ana. Malau masalalu kamu kusam. teman-teman Menyinyir sama kamu. Tinggi khayalan aku sama kamu. Asal kamu enggak ninggalin aku,"fikir dia.

** *

Pagi menjelang siang, di sebuah ruangan yang tak begitu rapi itu.

Yose asik membicarakan masalah kerjasama pada Rizki. Teman satu pekerjaan namun beda perusahaan.

Kerjasama perusahaan mereka dan pak Yoga.

Mencoba menawarkan tawaran itu pada pak Yoga, rekan kerja mereka yang umurnya jauh dari mereka. "Aku telphone dulu pak Yoga ya,"ucap Rizki pada Yose.

Yose mengangguk mendengar kalimat itu.

"Kita ke sana sekarang Yos. Dia ngajak ketemu siang ini,"ucap Rizki penuh antusias.

 ***

Mereka tiba di ruang kerja pak Yoga. Ruangan yang tak begitu luas. Rapi, bersih, ada pintu rahasia. Pintu yang menghubungkan ruangan lain. Memasuki ruangan pak Yoga umumnya orang-orang atau bawahannya selalu menggunakan pintu utama, namun pak Yoga mempunyai pintu tersendiri. Bawahannya kadang tak tahu jika pak Yoga datang dan ada di ruangannya.

Obrolan-obrolan serius terus bergulir. Seperti tak ada ruang canda di obrolan itu. Usai membicarakan pekerjaan itu, mereka saling bertanya soal kehidupan sehari-hari mereka. Dan kepribadian.

"Berapa umur kamu Yos?,"tanya pak Yoga.

"30 pak,"singkat Yose.

"Kalo kamu berapa Ki?."tanya pak Yoga pada Rizki.

"40 pak,"timpal Rizki.

"Kalo umur kayak Yose ini rentan banget godaan masalah cewek,"ucap pria berkacamata bening itu.

Yose terdiam. Tak mampu menimpali kalimat pak Yoga, keningnya mengerut. Hatinya bergetar tak karuan. Mengakui dalam hati akan sosok pak Yoga yang lebih dulu berada di posisinya. Artinya pak Yoga pernah mengalami hal yang sama saat ia seumuran dirinya.

"Kok dia tahu banget ya,"gumam Yose.

"Kalo kayak Rizki. Sudah enggak lagi,"timpal pak Yoga sembari menoleh ke arah Rizki.

Mereka berdua terdiam mendengar wajengan yang diberikan pak Yoga, wajengan ringan yang amat masuk nalar dan mudah diingat mereka.

"Aku kagum sama kalian, masih muda tapi berfikiran jauh ke depan. Kalo kalian lagi banyak kerjaan. Dapat uang lumayan jangan lupa bersedekah. Terus juga jangan banyak makan di luar. Karena anak isteri kalian itu berharap banyak sama kalian. Maksud bapak gini, lebih baik kalian makan seadanya di rumah. Dari pada kalian makan enak sendirian di warung,"ucap pak Yoga.

"Ya pak,"ucap dua pria yang ada di depan pak Yoga.

Beberapa menit kemudian mereka berpamitan pulang.

Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Rara duduk gelisah di depan televisi, kedua telapak tangannya tak henti-hentinya digelapar-gelaparkan, tak kurang dari 5 menit telapak tangannya yang halus ia rendam di dalam ember yang berisi air tak terlalu penuh itu.

Rasa panas akibat memetik tangkai cabai rawit matang tadi pagi masih amat terasa panas di telapak tangannya.

Ia mem-BBM Yose, menanyakan di mana dan apa yang sedang pria itu lakukan, Yose selalu memprioritaskan membalas BBM, SMS atau telphone dari Rara dibanding yang lainnya.

"Lagi santai aja jelek. Ini lagi sama Rizki. Baru selesai mam. Kamu udah mam jelek?,"tulis Yose menjawab pertanyaan yang ditulis Rara melalui BBM.

"Ya. Aku udah mam jelek. Tadi sesudah masak langsung mam. Oya jelek. Aku masak pindang ikan tadi. Cari bahan-bahan bumbunya di internet. Padahal aku enggak pernah masak pindang itu. Ayah sama ibu bilang masakan aku enak. Mereka nanya aku kok bisa masak. Aku cengar-cengir. Terus mereka bilang. Enggak sia-sia pulang KKN kemarin bisa masak,"cerita Rara di BBM.

Yose cengar-cengir membaca pesan itu. Pesan yang cukup membuatnya bangga, bangga akan wanita yang terkenal di antara teman-teman KKN dan bu lurah beberapa waktu lalu tak bisa memasak. Dan terkenal gadis manja. Namun hari itu bisa memasak karena mau belajar dan dinilai nikmat masakannya.

"Mantap. Tu kan. Kalo mau belajar pasti semua bisa, mau sih cobain masakannya. Aku ke rumah ya?,"goda Yose.

"Boleh kok kalo mau nyobain. Enak aja mau ke rumah huuuu. Dasar kamu mah jelek. Maunya ke rumah aku mulu. Enggak-enggak boleh ke rumah aku. Tar aja, nyobainnya kalo kita udah serumah,"timpal Rara.

Yose menghela nafasnya, pandagannya menggerling, membaca pesan itu. Kalimat di penghujung BBM itu membuatnya sedikit termangu.

"Heeee, Amiin,"balas singkat Yose.

"Singkat banget sih jelek?. Kamu lagi repot ya?,"tanya Rara.

"Enggak kok. Cuma aku bingung aja baca bales BBM kamu. Merinding aku baca kalimat terahir itu, 'nyobainnya kalo kita udah serumah'. Aku deg-degan tahu,"timpal Yose.

"Hahaaaaa. Jangan bingung loh jelek. Amiin-nin aja tu,"balas Rara sembari menggeleparkan telapak tangannya yang masih terasa panas.

"Oya jelek. Tangan aku kepanasan.  Tadi habis metik cabe rawit, Panas banget, Enggak ilang-ilang panasnya dari pagi tadi,"tulis Rara kembali.

Yose langsung menekan Keypad tombol hijau di handpone-nya menghubungi Rara dan tersambung.

"Sekarang masih panas ya?. Sekarang kamu ke kamar mandi, Cuci kaki kamu jelek, Sebelum cuci kaki kamu baca Bismilah,"kata Yose menjelaskan 'obat' menghilangkan panas di tangan Rara akibat memetik cabai.

"Ihh kok gitu jelek. Kok aneh ya. Tangan aku yang kepanasan. Kok kaki aku yang dicuci?,"jawab Rara kebingungan.

"Udah nurut aja loh. Kalo kamu enggak sembuh. Dengan cara yang aku kasih tahu barusan. Aku garansi sembuh. Kalo enggak sembuh. Kamu boleh minta apapun dari aku. Bakal aku turutin kemauan kamu jelek. Tapi itu tadi harus kamu jalani dulu,"jelas Yose.

"Oke jelek. Aku turutin saran kamu. Kalo boong. Aku enggak sembuh. Inget ya janjinya,"ucap Rara.

"Siap. Ia udah. Matiin dulu ya telphonenya. Nanti kalo udah dari kamar mandi BBM aja,"saran Yose menutup obrolan sembari mengucap salam.

Rara langsung ke kamar mandi. Gayung warna merah yang nampak masih baru itu. Ia gunakan untuk menciduk air di bak mandi berkeramik itu. Ia membaca Doa seperti yang disarankan Yose tadi.

"Bismillahhirohmannirohim,"ucap Rara sembari menyiram kedua kakinya.

"Subhanallah. Alhamdulillah, makasih jelek. Aku sembuh enggak panas lagi tangan aku,"ucap Rara lirih keheranan dan kegirangan merasakan apa yang ia rasakan saat itu. Seperti tak percaya dengan keadaannya. Tangannya kepanasan dari pagi tadi akibat memetik cabai rawit yang matang. Sempat direndam air. Belum juga hilang, berkat ia bercerita pada Yose. Dan diberi saran, Alhamdullillah langsung sembuh.

Wanita bermata bulat itu amat antusias. Ronanya berbinar. Langsung masuk kamar tidurnya, mengetik keypad handphone pintar miliknya.

"PING!!!, PING!!!,"pesan masuk di ponsel jenis BBM milik Yose yang dikirim Rara.

Pria itu langsung menelphonenya, dan tersambung.

"Gimana jelek?. Apa udah dicuci kakinya?,"tanya Yose membuka obrolan pada Rara diiringi salam.

"Udah sayang aku yang jelek. Tangan aku udah sembuh. Makasih banyak ya. Sayang aku. Sangen kamu jelek,"ucap Rara dengan nada sembringah.

"Syukurlah. Kalo kamu udah sembuh. Aku seneng dengarnya,"timpal Yose.

"Kalo aku pikir-pikir kamu ini jelek. Semua-semua kayak ngerti ya. Bingung aku sama kamu ini jelek,"tanya Rara keheranan.

"Enggak jelek, itu kebetulan aja. Aku itu pernah dikasih tahu sama penjual cabe. Kata dia gitu. Aku juga dulu pernah cabean. Aku baca Bismillah. Cuci kaki, langsung sembuh,"ucap Yose datar.

***

Seperti waktu yang dijanjikan. Malam itu Rara dan Yose janji bertemu, bertemu di salah satu warung kopi di area PKOR, lokasinya tak jauh dari jalan nasional. Tempat mereka biasa menghabiskan waktu berbincang jika mereka ingin berbincang irit. Bertemu tak terlalu mengeluarkan banyak uang.

Yose datang terlebih dulu di warung itu. Warung yang amat sederhana. Beratap terpal, berdinding banner yang mengeliling dengan ketinggian separuh badan. Tempat duduk pun hanya kayu plastik tak lebih dari empat buah. Sisanya beberapa bale bambu. Bale kayu dan meja kayu yang diberi taplak meja menggunakan potongan banner.

Duduk lesehan menepi. Menyendiri dari warung itu menunggu Rara yang belum datang sembari menyulut sebatang rokok yang mengepul dari mulutnya, dengan pemandangan di sekeliling beberapa pohon cukup besar.

Lampu penerangan sedikit remang. Di warung tadi, pengunjungnya tak terlalu ramai. Hanya empat orang pria paro baya yang terlihat sedang asik ngobrol. Entah apa yang dibicarakan mereka. Hampir lima belas menit tak terasa menunggu Rara di bale itu. Tak jauh dari tempat duduknya. Disugukan pemandangan beberapa kafe kelas teri. Kafe namun bisa dikatakan bukan kafe. Tempat itu menjual minuman tradisional asal Sumatera. Yang bisa memabukkan. Menjual makanan ringan dan tempat pria menghabiskan waktu.

Dentuman musik remix keluaran terbaru amat nyaring diputar si-empu warung. Suaranya mampu memekikkan telinga orang yang ada di sekitarnya.

Pandangan sedikit terganggu melihat seorang wanita berbadan gempal. Berpakaian sedikit mini. Menggunakan baju tank top namun memakai celana jenis jeans. Wanita berambut lurus dengan panjang setengkuk. Berjalan sendiri melintas di depannya. Sembari mengepulkan asap dari mulutnya. Dan duduk di bale tak jauh dari tempat duduk Yose. Wanita itu terlihat nyaman duduk lesehan di bale pinggir jalan itu. Dengan tenangnya menikmati sebatang rokok sembari bersenda gurau dengan beberapa rekan.

Tiba-tiba, datang seorang pria paro baya menggenakan topi kupluk berjaket jenis kulit warna hitam menghampiri Yose. Dan duduk di tepat samping Yose.

"Kamu bang?. Apa kabar?,"ucap Yose sembari menjulurkan tangannya pada pria yang baru saja datang.

"Ngapain di sini Yose?. Sama siapa?,"timpal pria itu, yang tak lain, Heri sahabat Yose yang cukup lama mereka tak bertemu.

"Sendiri. Lagi nunggu teman. Udah janjian, tapi belum dateng,"jawab Yose.

Heri menolehkan wajahnya ke wanita berbadan gempal yang melintas tadi. Menatap sedikit mengiba pada wanita berkulit Sawo matang itu.

"Kamu liat cewek itu Yos,"ucap Heri sembari menoleh pada wanita tadi.

Pandangan Yose sejenak fokus menatap wanita tadi, menghela nafasnya dalam-dalam. Keningnya sedikit mengerut dan mulut Yose komat-kamit sejenak. Membacakan salah satu kalimat suci yang ditujukan pada wanita itu, agar ia diberi kebaikan oleh YME.

 "Dia itu anak-anak. Umur baru 16 tahun,"ucap Heri datar.

Yose termangu mendengarnya. Tak percaya pastinya mendengar sedikit cerita Heri. Namun ia masih saja mencoba mempercayai cerita pria yang ada di sampingnya.

Heri bercerita, Dea, nama wanita tadi. Kesehariannya acap kali bisa ditemui di salah satu sudut PKOR Wayhalim, Bandarlampung.

Tak ada yang menyangka rona wajah kekanakannya bias tersapu pergaulan yang kurang sehat setiap harinya. Berdampak orang yang melihatnya dimungkinkan menebak ia telah berusia dewasa. Antara 20-30 tahun pastinya. Dea kata Heri, anak tergolong mampu secara financial. Secara ekonomi keluarganya amat berkecukupan. Rumah yang cukup megah dan dua mobil milik orang tua Dea menjadi bagian dari keluarga mereka. Bukan itu masalahnya, namun siapa sangka ia sering mendapat Kekerasan Dalam Rumah Tangga(KDRT) dari orang tua dan kakaknya.

Wanita kelahiran 1999 itu menurut Heri. Kerap mendapat kekerasan fisik dari orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Yang lebih memilukan. Saat ayah kandungnya menyiksanya. Kakak-kakaknya kerap membantu dengan cara memengangi tubuh Dea agar lebih mudah disiksa.

Heri terus bertutur. Cukup banyak luka bakar bekas puntung rokok di paha Dea akibat ulah sang ayah hingga kini luka bakar itu masih membekas. Belum lagi bogem mentah dan tamparan yang kerap ia terima akibat kesalahan tak seberapa yang ia lakukan. Tak jarang Dea kabur dari rumah akibat perlakuan kasar dari orang-orang yang disanginya.

Tak jarang pula sang ayah mencarinya dan membujuk Dea pulang. Jika ia melihat dan mendengar keluarganya mencarinya. Mimik trauma berkepanjangan di wajah Dea amat kentara, terlebih bila ia mengingat sikap kasar sang ayah.

Karena terlampau sering Dea kabur dari rumah. Keluarga pun pasrah. Tak ayal teman sejawat Dea menjadi tumpuan sang ayah menitipkan puterinya.

"Ayahnya sering bilang ke aku, nitip Dea ya,"ucap Heri yang tak lain rekan Dea menirukan perkataan ayah Dea.

Heri dengan semangatnya menceritakan kehidupan wanita lajang tadi. Pernah suatu hari. Dea menceritakan KDRT yang dialaminya.

"Aku kesal dengarnya, aku bilang ke Dea, lapor polisi aja,"cerita Heri polos, menceritakan solusi agar memberikan efek jera pada ayah dan kakak-kakak Dea.

"Terus gimana?,"timpal Yose dengan nada ingin penasaran.

Dea kata Heri, masih sayang dengan keluarganya.

"Enggaklah, dia itu orang tua saya," ucap Heri menirukan kalimat Dea.

Heri menceritakan, setiap harinya ia bersama Dea. Ia paham betul watak wanita belia tadi. Terlebih jika Dea tengah dirundung masalah. Seusia seperti Dea baiknya kata Heri, baiknya diberi pendidikan yang layak, dipantau perkembangan fisik dan mental oleh orang tuanya. Dengan siapa ia bergaul. Apa yang ia inginkan, terlebih ia seorang perempuan.

"Dea sering tidur di bawah pohon. Di warung yang sudah tutup. Kalo mandi di WC umum kadang di pom bensin,"tutur Heri.

Tak dapat dipungkiri. Karena lemahnya pengawasan orang tua. Dea kerap ikut-ikutan menenggak miras, merokok. Seperti pria dewasa umumnya menjadi hal biasa baginya dan ia melakukan hal yang seharusnya belum ia lakukan(sex para nikah), terkadang ia berkumpul dengan komunitas Anak Punk. Tak heran jika Dea dicap ketularan Anak Punk. Berpolah bisa nyaman makan dan tidur sembarang. Tak sedikit yang menyinyir soal perilakunya. Perilaku yang jauh dari norma dan pada wanita muda seusianya.

"Banyak yang ngajak aneh-aneh(chek- in). Ada juga yang ngajak Dea nikah siri. Tapi Dea enggak mau,"ungkap pria yang berperawakan sedang itu.

Bapak dua anak itu menuturkan, Dea amat khawatir jika melihat mobil Satuan Polisi Pamong Praja(Pol PP). Dikarenakan banyak rekan Dea yang pernah diciduk Pol PP, karena sangkan meresahkan. Terlebih Dea belum memiliki KTP karena belum cukup umur.

"Dia itu enggak meresahkan. Cuma cari kebebasan aja. Akibat keluarganya keras,"imbuhnya.

Yose terdiam. Amat fokus mendengar sekelumit cerita Dea dari Heri. Tak hentinya menghela nafasnya dalam-dalam. Mendengar cerita yang bisa mengelus dada tadi. “Beginikehidupan di Bandarlampung. Kota metropolis. Segelintir anak mencari kebebasan dengan cara yang salah,”gumamnya.

BBM di saku kemeja Yose berdering cukup kencang mampu memekakkan gendang telinga.

 PING!!!, PING!!!, PING!!!. Beberapa kali membuat ponsel jenis BBM itu bergetar. Langsung memeriksa. Terlihat pesan dari Rara. Wanita bermata bulat itu memberitahu dirinya sudah tiba di warung itu. Yose beranjak dari duduknya.

"Bentar ya bang. Ada teman aku mau kesini. Aku temui bentar. Dia udah di sini,"ucap Yose sembari berlalu.

Celingak-celinguk ia mencari Rara. Dijumpainya Rara memarkirkan motornya tak jauh dari posisi mereka duduk tadi.

"Mantap,"ucap Yose berseloroh pada Rara.

"Apanya yang mantap?,"timpal wanita itu sembari menghampiri Yose.

"Mantap. Janjian jam berapa dateng jam berapa?,"celoteh Yose cengengesan.

Rara cengar-cengir mendengar kalimat itu. Mereka berjalan gontai menghampiri Heri dan duduk di bale tadi.

"Ini Rara. Teman aku bang,"ucap Yose memperkenalkan Rara pada Heri.

Usai berbincang sejenak. Heri merasa kurang nyaman dengan datangnya Rara. Merasa kehadirannya mengganggu obrolan Yose dan Rara.

Ia berpamitan duduk di bale yang tak jauh dari tempat duduk Yose menghampiri Dea.

Rara duduk bersebelahan dengan Yose. Menawarkan minum dan makanan untuknya. Beberapa pilihan makanan untuk wanita yang baru saja tiba itu.

"Minum aja lah jelek. Pake es ya,"timpal Rara sembari menyebutkan merk minuman yang ia pesan. Sebuah minuman ringan, jenis teh berbotol beling.

"Kamu sudah makan jelek?,"tanya Yose sedikit serius.

"Sudah kok. Aku sudah makan tadi. Masih kenyang juga kalo mau makan cemilan,"sahut Rara.

"Kirain belum makan. Ya sudah kalo enggak mau makan. Pikir aku kalo kamu belum makan. Kamu pulang dulu sono. Tar kalo udah makan, balik lagi ke sini. Hahahhaaaaa,"seloroh Yose dan berlalu memesan minuman yang Rara pesan tadi.

Mereka larut obrolan demi obrolan yang menyegarkan, amat nyaman terasa.

Tiba-tiba seorang pria paro baya datang menghampiri mereka. Membawa sekresek cemilan. Jajanan kering kering.

"Bang, ini makanannya,"ucap pria bertopi itu. Sembari menyebutkan nama pengirim makanan tadi.

Yose cukup kaget mendengarnya. Sejenak termangu. Kawan Yose tadi, Heri yang memberi cemilan ringan itu. Untuk Rara dan Yose.

"Oke makasih ya bang,"ucap Yose pada pria yang mengantarkan makanan tadi. Sembari mengucapkan Doa untuk Heri.



Add Friend

Artikel Terkait

Comments
0 Comments