Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Jasa CV Bayar Seiklasnya bisa hubungi 0822 - 8079 - 8313 Fast Respon

Loker Gink Tech KLIK DISINI

Gabung Grup WA Loker KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram Loker KLIK DISINI

Rabu, Mei 25

Fadli Khoms : Kesepahaman Gerak Menjadi Kunci Aktualisasi Gagasan.

 



Ichwan Adji Wibowo, Ketua terpilih PCNU Kota Bandar Lampung menyampaikan konsep dan gagasannya terkait NU perkotaan. Menurutnya, NU perkotaan harus jauh lebih responsif, inklusif, dan sekaligus progresif. Kemudian untuk mewujudkan hal tersebut telah dirumuskan sejumlah strategi, salah satunya menjadikan NU Urban sebagai “jalan baru” menuju kebangkitan NU untuk memimpin peradaban dunia.


Selain itu, ia menambahkan bahwa NU Kota harus membuka dan menyediakan ruang persemaian gagasan, menumbuhkan dialektika sebagaimana jati diri NU itu sendiri, karena salah satu DNA NU adalah Tasfirul Afkar (gerakan pemikiran). Maka NU harus menempatkan supremasi Ilmu sebagai panglima.


Menanggapi pernyataan tersebut, Fadli Khoms selaku ketua MWC NU Sukarame menyambut baik gagasan tersebut. Ia mengafirmasi apa yang disampaikan oleh Ketua PCNU terpilih tersebut. Menurutnya, gagasan tersebut patut disambut baik oleh seluruh warga nahdiyin. Spirit ini yang harus terus dijaga dan dirawat. Hal itu tentunya berkesesuain dengan spirit awal lahirnya NU, fokus pengembangan pada sektor pendidikan (pemikiran) dan ekonomi menjadi dua hal pokok yang di garap oleh para ulama saat itu. 


"Tashwirul Afkar menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Inilah yang harus dilakukan kedepan." Ujar Fadli. 


Namun, Fadli menganggap bukan perkara mudah untuk mengaktualisasi gagasan tersebut. Dibutuhkan Kesepahaman gerak dari semua sektor dalam NU tersebut, termasuk melibatkan kaum muda NU untuk menjadi pelaku aktif dalam mengaktualisasi gagasan tersebut. 


Kesepahaman gerak salah satunya bisa dilakukan dengan melakukan proses kaderisasi secara terstruktur, sistematis dan masif. Dari tingkat ranting sampai tingkat cabang. 


Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengembalikan NU dalam kehidupan masyarakat, sebab NU dirasa telah kehilangan identitas dalam masyarakat, terlebih masyarakat perkotaan. Problem tersebut menjadi tantangan serius bagi kepengurusan saat ini, dan rasanya sudah tepat untuk menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi dan pertukaran gagasan dalam tubuh NU, khususnya bagi kaum muda NU. (Red)

Artikel Terkait

Comments
0 Comments