Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Jasa CV Bayar Seiklasnya bisa hubungi 0822 - 8079 - 8313 Fast Respon

Loker Gink Tech KLIK DISINI

Gabung Grup WA Loker KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram Loker KLIK DISINI

Rabu, Februari 2

Menkes Budi Menyebut Puncak Gelombang Omicron Berakhir Februari, Lebih Besar dari Delta


Menkes Budi Menyebut Puncak Gelombang Omicron Berakhir Februari, Lebih Besar dari Delta


Puncak gelombang Omicron di Indonesia,bMenteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memperkirakan terjadi di akhir Februari 2022, akan lebih besar dua sampai tiga kali daripada puncak gelombang varian Delta.

.

.

“Jadi kalau puncaknya kita dulu pernah 57 ribu [kasus] per hari kita mesti siap-siap dan hati-hati dan waspada, tidak perlu kaget kalau melihat di negara-negara lain itu bisa dua kali sampai tiga kali di atas puncak Delta,” ujarnya, dalam keterangan pers, Senin (31/01/2022) siang.

.

.

Lanjut Menkes Budi, di beberapa negara juga tengah menghadapi gelombang Omicron mencatat persentase kasus aktif di bawah varian Delta namun secara nominal jumlah orang yang masuk rumah sakit lebih tinggi dari varian Delta.

.

.

Dia himbau kepada masyarakat yang terkonfirmasi COVID-19 namun tanpa gejala, dengan gejala ringan, atau sedang, untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

.

.

“Sehingga Bapak-Ibu tidak usah khawatir kalau misalnya terkena tanpa gejela atau ada batuk, pilek sedikit, demam sedikit tapi saturasinya masih di atas 94-95 persen, dirawat saja di rumah. Biar rumah sakit diberikan untuk orang-orang memang yang membutuhkannya,” jelas Budi.

.

.

Ia menambahkan, bagi pasien COVID-19 yang sedang isolasi mandiri di rumah dan butuhkan obat-obatan, dapat melalui apotek atau melalui telemedisin aplikasi.

.

.

“Kalau memang dibutuhkan obat-obatan anti virusnya kita sudah siapkan lebih dari 20 juta dosis Favipiravir atau Avigan dan Molnupiravir, dua itu obat antivirus yang disetujui oleh organisasi profesi,” ujarnya.

.

.

Terkait dengan vaksinasi, Menkes Sebut pihaknya akan prioritaskan pemberian vaksin ke masyarakat yang belum menerima vaksin, terutama lansia dan anak-anak.

.

.

“60% yang meninggal belum divaksin atau belum vaksin lengkap, 63% yang sedang dan berat adalah belum divaksin atau divaksin lengkap, termasuk anak-anak,” pungkasnya. (Red).

Artikel Terkait

Comments
0 Comments