Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Loker Gink Tech Terbaru KLIK DISINI

Jasa CV Bayar Seiklasnya bisa hubungi 0822 - 8079 - 8313 Fast Respon

Gabung Grup WA Loker KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram Loker KLIK DISINI

Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com

Sabtu, September 21

Kakak Adik di Lampura Makan Daging Kucing Mati, Mirisnya.!



Kakak Adik di Lampura Makan Daging Kucing Mati, Mirisnya.! 


Ironisnya, mengetahui cerita Wagimin (35), dan adiknya, Suyatno (30), warga Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara, yang nekat memakan daging kucing bahkan mirisnya kondisinya sudah mati.

Ternyata usut punya usut, kedua pemulung itu, mempunyai sebuah alasan mengapa mengkonsumsi kucing mati tersebut, karena sudah tak ada lagi bahan makanan untuk disantap, dan juga sudah begitu lama keduanya tak mencicipi daging.

Wagimin mengakui bersama adiknya, memakan kucing mati beberapa waktu lalu.

“Saya & adik saya memang makan kucing mati, karena kepingin aja makan daging. Saya lihat kucing mati di pinggir jalan. Saya bawa pulang dan saya bakar untuk saya makan dengan adik,”Kata Wagimin.

Menurutnya, mereka memakan kucing mati itu bukan karena sudah terbiasa, namun karena saat itu tidak ada bahan makanan yang hendak mereka makan.

“Saya makan kucing itu tidak setiap hari kok, Pak. Hanya kebetulan saja ada kucing mati, makanya saya bawa pulang untuk dimakan,”Ujarnya.

Keberadaan kakak adik ini, seperti lepas dari pantauan pihak pemerintah setempat, hingga kondisi keduanya memprihatinkan.

Mengetahui hal itu, awak media dan Komunitas Jum’at Berbagi (KJB) Lampung Utara menyambangi dan memberikan bantuan kepada kakak adik itu. Keduanya, memiliki keterbelakangan mental yang sewaktu-waktu menunjukkan gejala.

Koordinator KJB Lampura, Firmansyah, menyampaikan, jika keterbelakangan mental yang mereka idap selama ini hanya sewaktu-waktu saja kambuh. Dan ia memastikan, keduanya bukan sakit jiwa.

“Mereka bukan orang gila, saya kira hanya depresi ringan yang sewaktu-waktu kambuh. Itupun tidak mengganggu warga sekitar. Saya yakin, depresi yang dialami keduanya disebabkan faktor ekonomi yang tidak mampu mereka atasi karena berbagai keterbatasan yang mereka miliki,” ujar Firmansyah, Jum’at, (20/9/2019). (Red)

Artikel Terkait

Comments
0 Comments