Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Gabung Grup What's App KLIK DISINI

Butuh Cepat di Gink Tech KLIK DISINI

Butuh Cepat di PT Syailendra KLIK DISINI

Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com
Loading...

Selasa, Juli 3

Bahaya Kecanduan Selfie, Dari Depresi Sampai Bunuh Diri

Ilustrasi Selfie | Via istockphoto.com
Bahaya Kecanduan Selfie, Dari Depresi Sampai Bunuh Diri

Infokyai.com - Dijaman now ini, siapa sih yang kenal Selfie, dari berbagai kalangan mulai dari kalangan muda hingga kalangan tua pun sudah mengenal istiltah selfie, dan bahkan kehidupan di Jaman Now ini, seperti tak bisa untuk melepas kebiasaan selfie.
Baca Juga :  Manfaat Coklat Bagi Kesehatan https://goo.gl/RMcagq
Seperti dilansir infokyai.com daro Detikhealth, Era media sosial membuat kita semakin mudah membagikan apapun yang terjadi di kehidupan kita lewat gambar atau video. Hal ini memunculkan fenomena 'selfie' alias swafoto yang telah merambah ke kalangan remaja untuk dibagikan ke akun media sosial mereka.

Menurut sebuah studi dalam The Journal of Early Adolescence, remaja yang mengunggah selfie mereka ke media sosial cenderung memiliki peningkatan kesadaran akan penampilan mereka sendiri. Dan kesadaran tersebut terkait dengan risiko peningkatan image tubuh yang negatif.

"Anak-anak ini sedang mencari pengakuan dalam hal tampilan fisik mereka. Sehingga mereka sebenarnya sudah condong ke masalah image tubuh negatif mereka sebelum mereka membagikan foto-foto tersebut secara online," kata Nancy Molitor, asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Northwestern University Illinois, dikutip dari Health Line.

Baginya, fenomena selfie yang dimulai sejak usia dini ini sangat meresahkan. Terutama pada remaja yang kecanduan media sosial, akan ada bahaya atau kerentanan psikologis yang dapat terjadi pada mereka, seperti depresi, kecemasan dan rasa ingin bunuh diri.
Baca Juga :  Manfaat Kacang Hijau Bagi Kesehatan https://goo.gl/qhKyyL
Sebuah laporan dalam Common Sense Media Report tahun 2015 mengungkapkan bahwa remaja cewek banyak yang mengkhawatirkan bagaimana tampilan mereka di internet. Sekitar 35 persen merasa cemas akan ditandai pada foto-foto yang tidak menarik dan 22 persen mengaku merasa buruk akan mereka sendiri saat foto mereka tidak diacuhkan. 

Mereka juga merasa image diri mereka runtuh saat tidak mendapat jumlah 'likes' dan komentar sesuai ekspektasi mereka. Selain selfie yang membanjir di media sosial, kecanduan selfie juga bisa menjadi sinyal kerentanan psikologis. 

Disebutkan oleh Molitor, para remaja ini menonton terlalu banyak reality show yang membuat mereka mengarahkan kehidupan 'online' mereka untuk mencerminkan apa yang mereka lihat. Sehingga tak menyadari diri mereka tak lagi autentik. 

"Dan hal itulah yang aku khawatirkan sesungguhnya, bahwa mereka akan terlalu fokus pada dunia luar (Bagaimana tampilanku? Apa yang orang pikirkan tentangku?) sehingga mereka jauh dari diri mereka sendiri," lanjutnya.

Ilyssa Salomon, mahasiswi doktor dari University of Kentucky membuat penelitian seputar remaja dan selfie. Ia menyebut bahwa penggunaan media sosial sangat individual dan remaja punya banyak kebebasan akan konten yang mereka unggah dan lihat, dan juga bagaimana mereka mereprentasikannya.

Dalam penelitiannya, hasil mengungkapkan banyak remaja yang bersedia menyesuaikan perilaku mereka untuk menyesuaikan diri daripada yang orang tua sadari, seperti merokok dan minum-minum. Dan media sosial berperan besar dalam hal tersebut. 

"Bagaimana orang-orang digambarkan dalam media populer menetapkan standar tubuh ideal yang akan para remaja perjuangkan. Budaya Barat cenderung menghargai wanita yang ramping dan pria yang berotot, warna kulit putih dan heteroseksualitas," kata Salomon.
Baca Juga :  Manfaat Kulit Kina Bagi Kesehatan https://goo.gl/5fo8xA
Salomon menegaskan bahwa remaja pasti akan mengalami banyak perubahan fisik dan psikologis saat usia pubertas yang sangat normal jika terjadi fluktuasi dalam image tubuh mereka. Dan media sosial bukanlah musuh dan seharusnya orang tua dapat membantu putra dan putri remaja mereka menggunakannya secara positif. (*)

Artikel Terkait

Comments
0 Comments
Loading...