Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Gabung Grup What's App KLIK DISINI

Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com
Loading...

Selasa, April 17

Mengenal Lebih Dekat Dengan Ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Foto Shutterstock
Mengenal Lebih Dekat Dengan Ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Infokyai.com - Peluang sarjana yang mempelajari Ilmu keselamatan dan kesehatan kerja (disingkat “K3”)  cukup besar, mayoritas perusahaan menyadari perlunya ada ahli K3 di perusahaan mereka.
Secara umum K3 adalah ilmu dan seni dalam pengelolaan hazard (bahaya) dan risiko agar tercipta kondisi tempat kerja yang aman dan sehat.

Ilmu K3 bersifat multidisiplin, yang meliputi ilmu dasar dan ilmu terapan. Karenanya ilmu ini juga dipelajari di berbagai macam bidang seperti kesehatan masyarakat, teknik, kedokteran, manajemen, dsbnya. Karena itu program studi (prodi) yang mendalami K3 dan lulusannya berpotensi menjadi profesional di bidang K3 juga beragam dan salah satunya adalah K3 kesehatan masyarakat (kesmas)/public health. 


K3 kesmas berbeda dengan rekayasa/teknik K3 (health & safety engineering). Lulusan K3 kesmas adalah lulusan fakultas kesehatan masyarakat dengan jurusan/konsentrasi/peminatan K3 atau sering disebut sebagai hiperkes (higiene perusahaan dan kesehatan kerja), ini berbeda dengan teknik K3 yang berada di lingkungan teknik / engineering. Jurusan K3 yang sama dengan K3 kesmas juga ada yang berada di bawah fakultas kedokteran dan ada pula yang berupa jurusan mandiri (tidak terikat dengan jurusan bidang kesehatan lainnya) atau bahkan berupa akademi khusus.

Di Indonesia, saya belum pernah mendengar ada penggunaan nama K3 untuk program S1, semua program S1 K3 dilaksanakan pada program S1 Kesehatan Masyarakat dan bergelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) yang mengambil konsentrasi / jurusan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Sementara untuk jenjang diploma (terutama D3 dan D4) hampir semua menggunakan nama K3 seperti D3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Begitu pula dengan S2 K3 juga menggunakan nama K3 yakni Magister Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan gelar Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja (MKKK).

K3 sebenarnya serupa dengan kesehatan masyarakat secara umum hanya saja lingkupnya lebih sempit karena masyarakat yang dimaksud dalam K3 adalah masyarakat tenaga kerja saja sedangkan masyarakat yang dimaksud dalam kesehatan masyarakat adalah masyarakat umum.

Lalu apa perbedaan K3 kesmas dengan teknik K3? Sepertinya K3 kesmas lebih banyak manajemen K3nya sedangkan teknik K3 lebih banyak engineeringnya dan lebih banyak praktik serta teknologinya. Lebih lanjut mengenai perbedaan K3 kesmas dengan teknik K3 bisa dilihat dari kurikulumnya.

Prodi Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) memang sedang naik daun saat ini. Prospek kerjanya sangat luas di SEMUA perusahaan dan atau menjadi PNS di instansi kesehatan pemerintah. Awal mula didirikanya jurusan ini berawal dari banyaknya kasus kematian akibat kecelakaan kerja di tempat kerja dan banyaknya penyakit yang timbul di tempat kerja, maka didirikanlah jurusan K3 oleh pemerintah.

Saat ini K3 di perusahaan sudah cukup baik, dan akan terus ditingkatkan.  Sejak tahun 2015 semua perusahaan harus sudah mempunyai ahli K3. Undang-undang yang mengaturnya pun sudah jelas, UU no. 1 tahun 1970. Kemudian ditambah lagi PP no.50 tahun 2012 tetang wajib K3 di semua perusahaan. Akhir- akhir ini pemerintah  mengeluarkan peraturan tentang jabatan fungsional di instansi kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas sebagai PNS ahli K3. Persyaratan pelamar adalah berasal dari D4 Hiperkes/K3. Semua instansi kesehatan harus mempunyai ahli K3.

Kebutuhan tenaga kerja di bidang K3 di Indonesia sangat besar, sekitar 5 ribu orang  tiap tahunnya. Dari 215 ribu perusahaan, baru 60%   yang punya K3. Namun, hanya 2 ribu yang bisa terpenuhi.   kebutuhan tenaga K3 di pasar global bisa dijadikan peluang oleh Indonesia.  Tiap tahun, dibutuhkan sekitar 800 ribu pekerja K3 di seluruh perusahaan multinasional. Jika bisa menghasilkan banyak lulusan K3, Indonesia bisa mengisi kebutuhan pasar dunia tersebut. kendalanya adalah jumlah PROFESI K3 yang ada belum mencukupi.   Nantinya ahli K3 akan bekerja dalam departemen HSE (Health Safety Environment) sebagai safety officer atau HSE manajer.

Prospek kerja K3, bisa bekerja sebagai  Petugas Keselamatan (Safety Officer), Industrial Hygienist atau tenaga  Ergonomist di berbagai bidang : Manufaktur, Pertambangan, Oil and gas, Konstruksi, Baja, nuklir, Industri kimia, makanan, Garmen, Rumah sakit dan industri Obat dan lain-lain.

Jika tertarik dan berminat melanjutkan studi ke K3 ini ada beberapa tempat dan nama perguruan tinggi yang membuka program peminatan  tersebut, di Lampung pun terdapat setidaknya dua prodi kesehatan masyarakat.

K3 merupakan suatu bidang yang terkait dengan aspek-aspek kesehatan dan keselamatan bagi manusia yang diterapkan secara bersamaan ketika ia melakukan pekerjaannya. Tujuannya supaya pekerjaan apapun yang dilakukan, kondisi dapat tetap sehat dan selamat baik bagi dirinya, orang lain, maupun lingkungan.

Untuk melakukan penerapan K3, dibutuhkan persiapan dan kematangan akan pengetahuan K3 terlebih dahulu. Hal ini bisa didapat dengan belajar dari ahlinya, menganalisa setiap permasalahan kerja, serta data-data yang sudah tercatat.

Pekerjaan dengan resiko yang tinggi, membutuhkan perancangan K3 yang tinggi pula. Sampai pada akhirnya perusahaan, pekerja, dan alat mendapatkan tanda kelayakan K3 sehingga pekerjaan dapat dijalankan. Tanda Kelayakan ini bisa berupa sertifikat, surat izin operasional, ataupun surat pernyataan laik fungsi dari lembaga negara setempat. Pekerja yang melanggar ketentuan K3 akan dikenakan sanksi Pidana maksimal 3 bulan atau sanksi Denda maksimal Rp.100.000 sesuai dengan UU No 1 thn 1970 pasal 15.

Dari segi kebutuhan, penerapan K3 disesuaikan dengan masing-masing ruang lingkup pekerjaan. Sebagai contoh pekerjaan perancah membutuhkan penanggulangan terhadap ketinggian, pekerja diwajibkan mengenakan safety belt dan helm. Kemudian pekerjaan pengelasan, pekerja diwajibkan mengenakan welding gloves dan welding goggles. Perbedaan kebutuhan ini dikarenakan jenis resiko yang dihadapi bagi setiap sektor pekerjaan bervariasi juga.

Metode penerapan K3 juga perlu diteliti karena akan menyangkut bagaimana perusahaan atau personal bisa mengendalikan semua pihak untuk berada di luar faktor-fator terjadinya kecelakaan. Baik itu dengan pemenuhan standar K3, pembinaan, pengecekan berkala, saling mengingatkan secara lisan, ataupun dengan cara lainnya, diharapkan aspek-aspek K3 terselenggarakan.

Penerapan K3 harus dapat melindungi seluruh pihak dari lima faktor bahaya yakni, bahaya biologi, kimia, Fisik/Mekanik, Biomekanik, serta Psikologis. Sekalipun seseorang mengalami kejadian bahaya, harus ada tim pelaksana pertolongan yang mampu mengobati pekerja.

K3 haruslah direncanakan, dipelajari, dan dipahami untuk nantinya diterapkan dalam pekerjaan. Perusahaan dapat menjamin lingkungan kerja yang sehat dan aman, serta dapat menjamin keselamatan semua pihak dari resiko kecelakaan.

Di prodi kesmas perguruan tinggi  di samping K3, biasanya tersedia juga peminatan-peminatan  unggulan  lainnya, diantaranya: Promosi Kesehatan (Promkes), Epidemiologi, Manajemen Pelayanan Kesehatan (MPK) dan Kesehatan Reproduksi (Kespro), Gizi. Dari masing-masing program tersebut tentunya memiliki keunggulan dan kelebihan masing-masing sesuai dengan dunia kerja yang dipilih.

Ayo daftar ke kampus pilihanmu dan pelajari lebih detail tentang K3 di samping ilmu-ilmu seputar kesehatan masyarakat lainnya.

Ditulis Oleh  Ir. Aldi Adrian Erya, Pemerhati Pendidikan. 

Artikel Terkait

Comments
0 Comments
Loading...