Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Gabung Grup What's App KLIK DISINI

Butuh Cepat di Gink Tech KLIK DISINI

Job Fair 14-15 Agustus 2018 KLIK DISINI

Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com
Loading...

Sabtu, Januari 6

Cerita Negeriku Indonesia Yang Memiliki Ragam Budaya Yang Tak Ternilai

Foto himmaba.com
Cerita Negeriku Indonesia Yang Memiliki Ragam Budaya Yang Tak Ternilai

Cerita Pendek, Infokyai.com - Seorang gadis berjalan anggun ke salah satu sekolah Negeri di Jakarta Pusat. Parasnya sangat cantik dengan polesan wajah khas gadis masa kini. Rambut panjang yang berwarna pirang kemerahan dibiarkan tergerai mengiringi setiap langkah kakinya. Ia mengenakan pakaian ketat, rok diatas lututnya, dan tak lupa menenteng tas keluaran terbaru luar Negeri. Sudah jadi pemandangan yang biasa kalau puluhan mata akan langsung tertuju padanya. Mulai dari pandangan terkagum-kagum sampai pandangan tak kalah sinis.

“Aurellia Adista Pratama!” panggil seseorang yang membuat langkah kakinya terhenti seketika. Aurel langsung membalikkan tubuhnya.  Kedua lesung pipinya langsung tercipta saat ia menunjukkan senyuman manis.

“Eh, pak Dika, ada apa pak?” balasnya santai tanpa rasa bersalah. Sedangkan pak Dika yang merupakan kepala sekolah menggelengkan kepalanya. Ia tak habis fikir dengan penampilan anak zaman sekarang yang kelewat batas. Sungguh geram rasanya melihat pergaulan di era globalisasi.

“Kamu tahu aturan sekolah ini kan? Dilarang mengecat rambut dan diharuskan menggunakan pakaian yang sopan!” tegurnya penuh penekanan disetiap kata yang terlontar.

“Ya gimana ya, pak. Bapak ini kurang gaul sih pak. Ini gaya anak zaman sekarang tahu pak. Keren kan, pak. Ini gaya Internasional. Coba deh bapak lihat di luar Negeri. Disana sama sekali tidak mempermasalahkannya pak. Kece banget kan, pak.” balasnya lagi tak mau kalah.

“Ini Indonesia Aurel. Cukup! Kamu harus turuti perintah saya atau kamu saya keluarkan. Saya tidak peduli kalau kamu adalah keponakan saya. Saya bisa adukan sikap kamu pada kedua orangtua kamu. Mengerti!” ancamnya agar dapat membuat jera Aurel.

“Yah, jangan dong, pak. Nanti papi sama mami marah. Bisa-bisa semua fasilitas ditarik. Jangan dong, pak, yayaya.” Pintanya.

“Tidak ada bantahan. Lakukan atau...,”

“Iya deh, pak. Iya, besok saya ganti.” ujarnya pasrah. Ia sengaja memotong ucapan pak Dika karena malas mendengar nasihat yang tidak ada habisnya. Seketika ide langsung mengembang dibenaknya. Ia menghitung dalam hatinya.

“AURELLIA!!!!”
Aurel tertawa puas mendengar teriakan dari pamannya itu. Ia berhasil kabur dan segera duduk dengan manis dibangku yang biasa ditempati. ‘Paman lebay. Biarin aja deh. Paman sih kurang gaul.’ Ia bersenandung ria sambil menunggu pak Burhan selaku guru bahasa Indonesia memasuki kelasnya.
Tak lama berselang semua teman-temannya memasuki kelas diikuti pak Burhan dipaling akhir. Aurel mengerutkan keningnya menatap pak Burhan yang raut wajahnya terlihat tengah menahan emosi. 

“Selamat pagi.” Ucapnya yang terdengar dingin.

“Pagi pak.”

“Saya akan membagikan hasil ulangan minggu lalu. Saya sangat kecewa dengan hasil ulangan kalian khususnya kamu, Aurellia!” ujarnya dan langsung mengalihkan pandangannya menatap Aurel dengan tajam.

“Saya pak?” tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Iya kamu! Kenapa kamu hanya mendapat nilai 20. Padahal ulangan saya terbilang tidak sulit. Sedangkan yang lain paling kecil adalah 60. Ini hanya bahasa Indonesia, Aurel. Bahasa dimana kamu berpijak saat ini.”

“Maaf, pak. Ya gimana ya pak, saya lebih suka bahasa luar Negeri sih.”

“Bener tuh, pak. Saya setuju sama Aurel.” Celetuk salah satu temannya.

“Saya enggak setuju dengan kamu. Benar kata pak Burhan ini adalah Indonesia. Negeri kita yang tercinta yang memiliki ragam budaya yang tak ternilai.”

“Woy, gak gaul banget lo.”

“Kamu yang tidak paham arti gaul yang sesungguhnya.”

“Ketinggalan zaman lo.”

“Kamu yang tidak bisa membedakan dampak positif dan negatif di era globalisasi ini. Kamu jangan menghina tanah kelahiran kamu sendiri.”

“Wawasan elo tuh yang kurang luas.”

“Huuuu....” balas yang lainnya dan membuat keadaan semakin tidak tenang.
“Sudah diam semua! Ini Indonesia bukan Negeri asing! Seharusnya kalian semua bisa menghargai karena kalian itu penerus Bangsa. Untuk kamu Aurel, silahkan kamu keluar dari kelas saya sekarang juga!”

“Huft, baiklah pak.” jawabnya sebal dan melangkah keluar kelas. ‘Kenapa semua menyebalkan sih. Lagian gaya dan bahasa asing lebih kece dan terlihat lebih gaul. Apa salahnya coba. Pada ketinggalan zaman semua.’ keluhnya dalam hati.

***

Bel sekolah pun berbunyi. Tidak terasa Aurel telah menghabiskan waktu tiga jam membaca novel disalah satu bangku taman sekolahnya. Ia segera pergi kekantin untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Pandangannya terhenti pada salah satu anak yang menjadi saingannya disekolah tersebut. Gadis itu memang mempunyai wajah cantik yang natural tetapi gaya dan hobi yang dimilikinya sangat tidak gaul. ‘Gue heran kenapa seorang Nadia Putri yang pakai seragam kebesaran, rambut dikelabang dua, hobi tari tradisional terus sering menggunakan tas dari daur ulang malah bisa jadi saingan gue. Enggak banget.’ pekiknya dalam hati.

“Aurel sini gabung sama aku.” Ajak seseorang yang tak lain adalah Nadia. Gadis itu tersenyum ramah sekali namun ditepis oleh kesinisan Aurel.

“Enggak deh. Disitu panas nanti gue hitam.”

“Wow, gaya kamu. Sampai segitunya sama terik matahari.” Ujar salah satu temannya dan membuat Aurel berdecak.

“Sudah jangan begitu, Za. Tidak boleh gitu atuh sama Aurel.” Bela Nadia yang masih tetap ramah dan tidak mau membalas perilaku Aurel.
Aurel segera melanjutkan langkah kakinya untuk memesan makanan dan minuman. Kemudian ia berjalan kebangku kosong yang tak jauh dari ia berdiri. Saat tengah menikmati minumannya, ia merasa bahunya ditepuk seseorang. Aurel segera menolehkan kepalanya dan menatap sebal pemuda itu. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya sejak ia kecil, Arnando Aji Farezza. Pemuda itu memang tampan dan hitam manis khas Indonesia. Nando langsung duduk dihadapannya dan tersenyum.

“Cie, ganti warna rambut lagi. Gak takut rusak tuh rambut, neng?” godanya membuat Aurel berdecak sebal. ‘Apa banget sih, Ndo. Bete gue.’

“Enggaklah! Gue kan ke salon yang udah punya serti Internasionalnya jadi akan selalu indah.” balasnya membuat Nando menggelengkan kepalanya. Ia sudah sangat mengerti bagaimana sikap sahabatnya itu yang tidak pernah mau ketinggalan informasi untuk mengikuti setiap perkembangan era globalisasi.

“Ya terserah kamu. Aku cuma ingetin, yang penting jangan ikutin arus yang kearah lebih negatif. Kamu tahu kan yang aku maksud.” Ucapnya mengingatkan tanpa pernah lelah. Sebab ia sangat tidak ingin kalau sahabatnya itu akan salah jalan dikemudian hari.

“Iya gue paham. Narkoba sama pergaulan bebas kan maksud lo?”

“Iya tepat sekali. Awas aja kalau kamu sampai dekati itu. Aku bakal jadi orang pertama yang masukin kamu ke rumah sakit jiwa biar kamu makin gak waras. Jadi ingat itu baik-baik.”

“Berani?” tantang Aurel.

“Beranilah. Kenapa enggak.” Balasnya tegas.

“Sial lo. Eh, gue mau nanya dong, Ndo.” Ujar Aurel membuat Nando mengangkat sebelah alisnya sembari menyipitkan matanya. “Kenapa sih tuh orang jadi sorotan dan nyaingi gue. Gak banget kan padahal. Lihat deh penampilannya. Sama sekali gak gaul!” Lanjutnya sambil menunjuk kebelakang Nando dengan dagunya. Nando menengok mencari tahu siapa yang dimaksud Aurel dan tersenyum. Ia kembali menatap Aurel sembari menghadiahi cubitan dikedua pipi Aurel gemas. Sedangkan Aurel langsung memukul tangan Nando sebal.

“Ya wajar, Rel. Nadia itu pantas jadi sorotan karena jadi contoh yang baik. Nadia itu cantiknya natural gak kaya kamu yang terlalu tebal pakai bedak, warna bibir merah banget kaya jontor, belum lagi alis pakai dilukis-lukis gitu. Selain itu dia selalu pakai pakaian yang sopan serta yang paling penting dia adalah penerus generasi Bangsa ini yang hebat. Soalnya, dia itu pintar berbagai macam tari tradisional gak kaya anak zaman sekarang yang cuma bisa jingkrak-jingkrak dan geleng-geleng mengikuti musik gak jelas. Dan yang terakhir dia ramah serta lembut banget kalau bicara. Khas Indonesia deh. Gak kaya kamu.” Cibirnya  yang langsung dihadiahi cubitan oleh Aurel. Nando tertawa sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk simbol perdamaian. Ia hanya ingin Aurel bisa kembali berfikir mana dampak positif dan mana yang negatif.

“Apasih, Ndo. Gak usah banding-bandingin dia sama gue deh! Dia mah gak gaul sama sekali. Ketinggalan zaman banget tuh anak.”

“Dengerin aku baik-baik ya, Aurel yang cantik tapi menjengkelkan. Gaul itu gak harus dengan ubah warna rambut, pakai pakaian ketat, poles tebal maupun pakai tas luar Negeri sekalipun. Gaul itu bisa dengan cara bagaimana kamu mempertahankan budaya kita sendiri. Dimulai dengan kamu ramah dengan siapapun terus lembut bicaranya itu udah bisa buat kamu terlihat gaul.”

“Gue enggak mau! Norak lo!” tolaknya mentah-mentah.

“Kenapa kamu gak mau sih, Rel? Kamu gak bakal ketinggalan zaman, Rel. Dengan pakai pakaian gini kamu malah jadi negatif difikiran orang. Apa kamu mau? Enggak kan. Soal wajah? Tanpa dipoles kamu udah cantik secara natural. Terus daripada kamu menghamburkan uang banyak untuk beli tas dari luar Negeri dan keluar masuk salon mending berfikir bagaimana mempertahankan budaya Indonesia. Itu jauh lebih baik dan akan membuat orang-orang disekitarmu bangga padamu. Kalau soal pemandangan indah untuk kamu abadikan di sosial media juga bisa gak harus pergi keluar Negeri. Ada Bali, Lombok, Papua, dan lain-lain yang punya pesona luar biasa. Bahkan orang asing aja berbondong-bondong untuk datang kemari. Lah, kamu malah tidak mau menghargainya.” Lanjutnya lagi dan membuat Aurel terdiam. Gadis itu terlihat berfikir sambil mencerna baik-baik setiap kata-kata dari Nando yang dilontarkan untuknya.

“Ya tapi kan, Ndo. Gue...,”

“Rel, cintailah Negeri sendiri. Jangan terbawa arus. Jangan lunturkan budaya kita sendiri. Enggak salah, kalau kamu ingin mengikuti perkembangan zaman tapi ambilah segi positifnya dan buang jauh-jauh yang negatif. Kita ini generasi penerus Bangsa kelak. Jadi janganlah menjadi generasi yang menghancurkan Negerinya sendiri. Mengerti?”

“Iya gue..eh, aku mengerti.” Balasnya sembari menghembuskan nafasnya.
“Nah gitu dong. Itu baru sahabatnya aku.” Balas Nando senang. Aurel pun tersenyum menatap sahabatnya itu. ‘Nando benar. Aku, dia dan kami semua adalah salah satu generasi penerus Bangsa dikemudian hari. Aku harus cinta dengan Negeriku sendiri. Inilah Indonesia, Negeriku Budayaku.’

- Negara Indonesia adalah Negeri yang sangat kaya akan nilai budayanya, bahasanya dan sumber dayanya sendiri yang melimpah ruah.  Jadi tak salah jika zaman dahulu banyak penjajah berbondong-bondong menguasai Negeri ini. Diperkembangan zaman saat ini jangan sampai membuat kita menghancurkan Negeri kita sendiri. Karena akan jadi apa Negeri ini kelak tergantung ditangan kita sekarang ini. Sadarlah bahwa kita adalah para generasi muda penerus Bangsa. Kita tidak boleh melunturkan budaya sendiri dan menyiakan perjuangan para pahlawan kita begitu saja. Junjunglah terus persatuan dan kesatuan di Negeri ini. Majulah Indonesiaku  -

Hai semua!!! Nama saya Fadhia Ariani Intan S.D yang lahir pada 9 Mei 1996. Saya gemar sekali menulis sejak tahun 2011 silam dan telah menyelesaikan sebuah novel yang berjudul A Piece of The Story. Bagi saya menulis bagaikan nyawa karena dengan menulis saya dapat meluapkan inspirasi dan perasaan yang tengah dirasakan. Mohon kritik dan sarannya ya di wattpad: FadhiaA_IntanSD / fb: Fadhia A Intan S’dewi / blog: fadhiaarianiintansekard.blogspot.com / ig: fadhiaaa_intansd Salam penulis and Merci  

Artikel Terkait

Comments
0 Comments
Loading...