Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com

Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Follow Instagram @Infokyai KLIK DISINI

Add @LINE Infokyai KLIK DISINI

Add PIN BBM Infokyai KLIK DISINI

Add BBM Channel Infokyai KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram KLIK DISINI

Thursday, June 1

Sejarah Tanggal 1 Juni Hari Lahir Pancasila

Foto Ist
Sejarah Tanggal 1 Juni Hari Lahir Pancasila
Sejarah, infokyai.com - Tanggal 1 Juni merupakan tanggal yang bersejarah untuk Negara Indonesia, tanggal 1 Juni adalah tanggal lahirnya Pancasila, dan perlu anda ketahui bahwa untuk tanggal 1 Juni adalah hari lahir, namun untuk tanggal 1 oktober adalah penanda hari kesaktian pancasila. 

Pada masa Orde Baru, Hari Lahir Pancasila yang jatuh [ada tanggal 1 Juni, secara sistematis dicoba dihilangkan dari memori bangsa, disepanjang era tersebut, setiap tanggal 1 Oktober dipasang bendera setengah tiang, pada masa rezim orde baru menyebutnya sebagai hari kesaktian pancasila.

Mungkin bagi sebagian orang yang belum mengetahui makna bendera setengah tiang, itu terlihat biasa saja maknanya, dan mungkin tidak menjadi persoalan yang besar, namun ternyata tanda bendera setengah tiang adalah tanda kondisi berkabung di salah satu pihak dan kesaktian Pancasila di pihak lain, sehingga pada tanggal 1 Oktober dijadikan hari perkabungan nasional akibat terbunuhnya sejumlah perwira TNI (tentara nasional indonesia) dengan alasan - alasan yang lainnya, yang kuat mendukung sebagai faktor dijadikannya 1 oktober menjadi hari kesaktian Pancasila.

Tanggal - tanggal bersejarah merupakan suatu moment yang harus diketahui oleh bangsa, akarena dalam setiap tanggal tersebut terdapat moment - moment yang penting dan dapat dimaknai, bahwa untuk menumbuhkan kesadaran atas identitas dan solidaritas bangsa mengenang jasa - jasa perjuangan bangsa sebelumnya (terdahulu)

Bung Karno sebagai pemikir dan pencetus dasar negara ini mendekati Pancasila secara rasional. Pidato 1 Juni 1945 berisi rasionalisasi yang dilengkapi referensi konseptual atas Pancasila sebagai dasar negara. Sementara Jenderal Soeharto mengajak rakyat mendekati Pancasila secara mistis. Terminologi kesaktian hanya dapat dihayati dengan kesadaran mistis, tidak atas dasar rasionalisme.

Pendekatan konseptual Bung Karno tecermin dalam tulisan- tulisan otentik pribadi dan pidato tertulis dan lisannya sebelum dan sewaktu menjadi presiden. Sementara kecenderungan pemikiran Jenderal Soeharto tidak dapat diketahui dari masa sebelum menjabat presiden.

Pendekatan konseptual terkandung dalam pidato tertulis (yang disiapkan Sekretariat Negara) dan dibacakan Jenderal Soeharto dengan cara datar dan dingin. Sedangkan kecenderungan otentik personal tecermin saat pidato lisan maupun penampilan dalam temu wicara dengan kelompok-kelompok masyarakat yang disiapkan aparat birokrasi negara.

Bung Karno adalah salah satu pemikir yang mengembangan konsep dasar Pancasila dan didekati dengan kesadaran rasional. dengan menggabungkan kedua pemikiran tersebut, lalu dibongkar ulang semua rekayasa intelektual dengan dimotori oleh Angkatan Darat yang dimotori almarhum Jenderal Nugroho Notosusanto untuk meniadakan faktor Soekarno melalui penataran Pancasila.

Pada masa order baru, terdapat dua arus tentang Pancasila, secara struktural dengan adanya doktrin - doktrin yang berkembang pada masa itu, dan juga Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang diselenggarakan secara luas pada berbagai lapis masyarakat bersifat doktriner, jauh dari nilai dasar berbangsa dan bernegara sebagaimana diharapkan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945.

Kedua, secara simbolik, melalui berbagai wacana yang bersifat mistifikasi Pancasila. Di antaranya dengan hari berkabung atas terbunuhnya perwira TNI, dengan ritual untuk menghayati kesaktian Pancasila. Kehikmatan beraroma mistis di monumen Lubang Buaya ini dalam konteks kenegaraan menjauhkan masyarakat dari penghayatan rasional kehidupan bernegara. Upaya peyakinan terus-menerus sepanjang Orde Baru tentang hancurnya kekuatan anti Pancasila berkat kesaktian Pancasila.

Kehidupan bernegara dengan basis keyakinan mistis merupakan bencana bagi suatu bangsa negara modern. Jika aparat birokrasi negara, militer, polisi, bahkan elite masyarakat juga menghayati keyakinan mistis semacam ini, kiranya hanya dapat dibayangkan untuk kehidupan bernegara abad ke-16. Sulit membayangkan masa depan negara pada abad ke-21 dengan basis budaya negara yang dibangun selama 30 tahun oleh Orde Baru.

Karena itu, langkah mendesak adalah demistifikasi atas Pancasila. Termasuk juga meniadakan konteks mistis dalam kehidupan kenegaraan. Ritual ”ruwatan”, misalnya, memiliki signifikansi bagi kehidupan keluarga, tetapi sama sekali tidak punya makna bagi negara.

Presiden RI bukan kepala keluarga, melainkan kepala negara. Negara merupakan sistem yang terdiri dari komponen-komponen politis, sosiologis, dan ekonomis yang integrasinya atas dasar kepentingan rasional yang bertolak dari acuan nilai bersama (shared value). Karena kepercayaan bahwa kehidupan bernegara dapat ditata atas dasar mistis, hanya akan menjerumuskan kita ke dalam Orde Baru Kedua.

Makna perkabungan nasional

Ditumpasnya kekuatan anti Pancasila, atau berbagai pemberontakan, perlu disikapi dengan pemahaman kesejarahan yang bersifat rasional, bukan dengan irasionalitas keyakinan saktinya Pancasila. Setiap keberhasilan dan kegagalan pada hakikatnya berasal dari strategi dan operasi yang dijalankan secara rasional. Dengan rasionalitas ini pula 1 Oktober dapat disikapi sebagai hari perkabungan nasional, bukan untuk ritual kesaktian Pancasila.

Pada Tanggal 1 Oktober 1965 merupakan salah satu tanggal bersejarah yang perlu anda ketahui, pada tanggal ini adalah mengenang tragedi meninggalnya sejumlah perwira TNI yang saat ini sudah banyak yang mengetahuinya, diakibatkan adanya Gerakan 30 september atau dikenal dengan G30SPKI.

Menelusuri tragedi 1 Oktober tidak mengurangi makna perkabungan bagi para perwira TNI. Ini merupakan tugas sejarawan, termasuk TNI sendiri, untuk mengungkap seluruh tabir yang menyelimuti penculikan dan pembunuhan itu, agar tragedi dan perkabungan dapat dihayati secara rasional.

Sejumlah pertanyaan kunci perlu dijawab, sebab yang melakukan penculikan dan pembunuhan, baik dalam buku sejarah ala Nugroho Notosusanto maupun film semidokumenter Arifin C Noer, adalah bagian dari pasukan Cakrabirawa, pengawal kepresidenan.

Soalnya, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Cakrabirawa dibentuk atas unsur-unsur angkatan. Personel Cakrabirawa yang terlibat adalah Letkol Untung dan awak pasukannya yang berasal dari Angkatan Darat. Tidak pernah dibukakan bagaimana rekrutmen pasukan Cakrabirawa ini, khususnya yang berasal dari Angkatan Darat.

Apakah bergabungnya Letkol Untung dan awak pasukannya ke dalam Cakrabirawa, atas permintaan Presiden Soekarno dan Komandan Cakrabirawa, ataukah atas penugasan Komandan Kostrad sebagai induk pasukannya?

Begitu pula dalam sejarah resmi digambarkan adanya perwira- perwira Angkatan Darat yang berhasil dipengaruhi oleh tokoh-tokoh sipil dari PKI. Untuk itu perlu ditelusuri tipologi ”kedunguan” dari perwira Angkatan Darat yang begitu mudah dipengaruhi dan digerakkan oleh orang sipil.

Garis komando yang sering dipujikan dalam lingkungan militer dapat diambil alih oleh orang sipil, yang notabene dalam buku sejarah dan film Arifin C Noer orang ini tidak jelas posisinya dalam kepengurusan PKI.

Satu Oktober 1965 dapat dijadikan titik tolak dalam penelusuran sejarah bangsa. Siapa tahu kita akan sampai pada kesimpulan bahwa dengan terbunuhnya para pahlawan revolusi, yang kemudian disusul pembunuhan massal (belasan, puluhan, ratusan ribu korban rakyat Indonesia, yang mana pun bilangannya, perlu verifikasi) akibat eksploitasi konflik horizontal yang bersifat laten dalam masyarakat, maka kita memang sangat layak punya Hari Perkabungan Nasional.

Perkabungan untuk suatu bangsa yang sanggup membunuhi sesama manusia tanpa rasa bersalah.

Sekian yang dapat infokyai papar tentang Sejarah Tanggal 1 Juni Hari Lahir Pancasila, yang diambil dari beberapa sumber tepercaya seperti dari Sumber :  http://nasional.kompas.com/read/2016/06/01/06060001/1.Juni.dan.1.Oktober.untuk.Pancasila , dari buku catatan - catatan tentang Pancasila, Buku sejarah Indonesia dan sumber - sumber lainnya.

Semoga dari tulisan ini, dapat membantu anda semua untuk dapat mengenang jasa para pendahulu kita sebelumnya, dan dari tulisa ini, kita dapat mengetahui bahwa, mengenang hari - hari penting atau besar itu baik dalam pemaknaanya, karena dari mengenang hal tersebut, kita bisa sadar, bahwa betapa kita masih merasa tenang, bisa menghirup udara segar dengan nyaman, tanpa adanya perjuangan dan tindasan, coba bayangkan beberapa tahun sebelum itu, para pendahulu kita, ia bisa bernafas, namun saja mereka harus bernafas dengan perjuangannya, serta bertindak untuk dapat bertahan hidup, ketenangan hidupnya pun bisa didapatkan, namun setiap harinya harus mengantisipasi, atas tindakan - tindakan lawan atau musuh.

Betapa besar perjuangan para pendahulu kita, ia memperjuangkan, untuk anak, cucu, cicit generasi penerus, untuk dapat tersenyum dan hidup tenang, alangkah hebatnya para leluhur kita, sudah memikirkan sepanjang ini untuk kita semua.

Dan tugas kita sebagai penerus bangsa adalah, hanya menjaga ketenangan yang ada di Negara Indonesia, dan terus mempertahankannya, jangan sampai Negara Indonesia ini dijajah oleh Negara lain lagi.

Generasi Penerus Bangsa adalah generasi yang cerdas ! yakin pasti bisa terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, terus lah berjuangan para Pemuda ! jagalah selalu Indonesiamu, Yakin kalian adalah generasi penerus yang luar biasa ! teruskan perjuangan nenek moyang terdahulu !

Add Friend

Artikel Terkait

Comments
0 Comments