Saran dan Kritik Kepada Pemerintah Bisa anda kirimkan ke kawannongkrong@gmail.com

Dapatkan Info Terbaru infokyai Setiap Harinya, Masukkan Email Anda dibawah ini

Follow Instagram @Infokyai KLIK DISINI

Add @LINE Infokyai KLIK DISINI

Add PIN BBM Infokyai KLIK DISINI

Add BBM Channel Infokyai KLIK DISINI

Gabung Grup Telegram KLIK DISINI

Sunday, May 28

Cerita Pendek : Rasa yang Terpendam

Foto Nadya Amalia
Cerita Pendek : Rasa yang Terpendam 
Cerita Pendek, infokyai.com - Cerita Pendek yang dituliskan oleh Nadya Amalia, Mentari nampak indah dengan sinarnya yang menghangatkan tubuh. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah bersama teman-temanku. Disepanjang jalan kami bercerita,tertawa, bahkan ada yang saling curhat. Karakter kami memang beragam. Tetapi, kami teman yang baik.

Saling mengerti dan memiliki solideritas yang tinggi. Namaku Siti Aisyah, biasa dipanggil Siti. Aku siswi kelas X jurusan IPA di SMA Pelita. Pada suatu hari,tepatnya hari minggu ketika kami sedang jalan-jalan ada yg menarik pandanganku di persimpangan jalan. Dia berdiri dengan mengenakan jaket merah dipadupadankan dengan setelan celana warna hitam sungguh dia terlihat begitu tampan.

Dia melihat ke arahku, namun aku tersipu malu tak berani menatap matanya, salah seorang teman menegurku. "Kamu kenapa, Sit? berdiri aja di situ!“ tanya Nadya tiba-tiba yang mengagetkanku, namun aku menghindar dari pertanyaannya. Aku tidak tahu namanya, yang aku tahu dia satu sekolah denganku. Dia kakak kelasku. Siswa Kelas XI jurusan IPA. Walaupun satu sekolah dan bertemu sesekali.

Tetapi, kami tak saling tegur sapa. Ya meskipun begitu hatiku tetap berdebar bila bertemu dengannya. Jadi salah tingkah. Tapi tidak ada keberanian untuk mengungkapkan rasa ini.Seakan lisan ini kelu bila berbicara dengannya. Aku hanya dapat melihatnya dari jauh. "Oh Tuhan, ada apa dengan perasaanku? mengapa selalu bergetar dan gugup bila berjumpa dengannya. Apakah aku suka? oh Tuhan.. jagalah hatiku." Ucapku dalam hati. ****

Di sekolah, pada hari Senin. Saat upacara pengibaran bendera, ia jadi pemimpin upacara. Dengan gagahnya dia berdiri di depan mengatur barisan,dan aku berada di barisan paling depan,dengan berdiri tegak dan pandangan mata ke depan mengikuti aba-aba dari sang pemimpin"Dag,dig,dug" dadaku berdebar kencang."Duhh! bagaimana ini, aku kok jadi salah tingkah begini." Keluhku dalam hati.

Teman-temanku yang lain sibuk dengan barisannya masing-masing. "Kepada Sang Saka merah putih hormat.... gerak!"lantangnya suara kakak memimpin pasukan membuat dadaku semakin tak karuan. Kamipun mulai menyanyi lagu Indonesia raya serempak. Selesai upacara kamipun masuk kelas masing-masing. Sewaktu aku sedang berjalan tidak sengaja aku bertabrakan dengan dia. "Maaf ya, kamu tidak apa-apa?"ujarnya sambil membantuku berdiri "Oh, aku tidak apa-apa kok!"ujarku sambil tersenyum tipis "Benar tidak apa-apa?"dia meyakinkan aku "Iya tidak apa-apa kok."aku malu-malu dihadapannya.

Lalu dia mengucapkan kata 'maaf' dan berlalu pergi menuju kelasnya yang tidak terlalu jauh dari tempat kami bertabrakan. Aku melihat sosok itu sampai hilang dari pandanganku. Dadaku pegangi erat-erat takut ada orang lain mendengar degup jantungku yang semakin keras. Tettt..tettt Bel berbunyi pertanda para siswa harus masuk kedalam koridor sekolah. Dengan hati gembira aku senyum-senyum sendiri.
"Hey kamu tidak apa-apa kan kok senyum-senyum sendiri begitu, kamu habis melihat siapa hayoo?"
Goda Rose menepuk pundakku dengan penuh canda. Lalu aku menjawab,"Habis bertemu pangeran jatuh dari langit. Hahaha..
" Kataku dengan hati berbunga bunga Setiap detik aku terus memikirkannya. Sampailah pada pelajaran Bahasa Indonesia mengenai puisi. Sang guru menyuruh kami membuat puisi dan membancakannya didepan. Aku bergegas dan bersemangat untuk mengutarakan rasa penasaran dan rasa kagum ku padanya. Aku mendapat giliran pertama untuk membacakan puisi.

Ketika aku maju di depan kelas aku membacakan sebuah puisi yang berjudul Pangeran Impianku. Wahai pangeranku... Entah darimana rasa ini datang Pasalnya, aku tak pernah mengundangnya Kau seperti bibit unggul Menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatiku Dan, gedung ini serupa saksi bisu Yang kau torehkan,bersama rasa ini Kau datang dan singgah Dan kuharap kau tak lekas pulang Oh, Tuhan...Jagalah hatiku, Dan benih benih cinta yang mulai subur ini Seusai aku membaca puisi itu seisi kelas bergemuruh dengan tepuk tangan, aku pun sedikit malu hingga aku menolehkan wajahku kearah jendela kelas. Tiba-tiba saja sosok pangeran itu tepat berada di depanku meski terhalang jendela.

Akupun terkesipu malu melihatnya, hingga dia berlalu pergi. Aku kembali duduk di bangkuku. Fikiranku mulai kacau, membayangkan ketampananya. 'Ah..’ keluhku dalam hati tak tahan. Tett...tettt..tettt... Pulang sekolahpun tiba. Siswa siswi berhamburan dihalaman sekolah. Namun aku tak langsung pulang, karena ingin ke perpustakaan.Sesampainya didalam perpustakaan, aku mulai kebingungan mencari novel yang kuincar sejak kemarin. Aku sudah memutari perpustakaan, namun buku novel yang aku cari belum ketemu juga.Setelah beberapa menit, akhirnya aku menemukan juga buku yang aku cari.

Namun, hanya saja buku itu terletak di rak yang cukup tinggi. Sehingga tanganku tak bisa meraihnya.Tiba-tiba, muncullah seorang pria yang datang menghampiriku "Bolehkah aku membantu mengambilkan untukmu?" ujar pria itu sambil senyum. "I.. i.. iya boleh-boleh Kak silahkan!"kataku dengan mulut terbata-bata. Aku tak menyangka pria itu adalah pangeran impianku.

Perasaanku semakin tak menentu membuat hatiku berkeinginan untuk berkenalan dan dekat dengannya. Semenit kemudian, "Maaf, ini bukunya!"ujar dia dengan menyodorkan buku tepat di depan wajahku. " Terimakasih ya, Kak!"ujarku dengan memandangnya. Lalu aku dan dia duduk di bangku perpustakaan. Jarak kami agak berjauhan. Aku membaca buku novel itu dengan tangan yang gemetaran. Bukan karena bukunya yang menakutkan, tetapi karena hatiku yang berkecamuk hebat. Wajahku tak sanggup menatap wajahnya secara langsung, sehingga kami hanya membisu sibuk membaca buku yang kita pegang.Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.

Waktunya aku harus segera pulang.
"Kak, maaf sudah jam 3 aku pulang dulu ya!"ujarku dengan menunduk. Lalu pria itu pun menjawab sambil memandangku dengan tersenyum. "Iya silahkan. Kalau nanti ke perpustakaan lagi dan butuh bantuan, bisa minta tolong padaku."ujarnya dengan santun. "I.. i.. iya Kak!
Terima kasih atas bantuannya tadi!"kataku dengan menunduk dan berlalu pergi dari perpustakaan. Sekilas kutoleh kebelakang kakak itu kembali meneruskan buku bacaannya. Sepanjang jalan aku membayangkan tadi aku bertemu dengannya.

Bertemu dengan orang yang membuat jantungku bergetar. **** Malam hari yang cerah ini kupandangi bintang-bintang yang berkelap-kelip layaknya mutiara bertaburan. Indah dan aku pun tak ketinggalan membawa kertas sedangkan bulpen ada di sela-sela jariku. Dibawah temaram langit aku pun mulai menuliskan rangkaian kata demi kata . Kutuliskan sebuah syair yang tak terungkap Selembar kertas yang bisu Hanya ujung pena yang bergerak tak tau rimba Hatiku tak karuan Oh Tuhan, jagalah pujaanku hingga pagi mengusir malam Jemariku mulai terhenti. Hanya itu yg bisa aku ungkapkan dari perasaan yang mendalam padanya.

Aku berharap pria itu tahu perasaanku sebenarnya. Sepertinya aku harus sering ke perpustakaan barangkali dia mampir kesitu. **** Esok tiba jadwalku yang biasanya pulang langsung ke rumah sekarang ditambah dengan pergi ke perpustakaan dulu. Barangkali bisa ketemu pangeran lagi. Nah, tepat sekali dia ternyata ada di perpustakaan persis ditempat duduk kami kemarin. Sambil pura-pura aku mencari novel, mataku tak bisa kabur dari sosok itu. Kamipun ketika berpapasan hanya saling tersenyum dan mengucapkan sapaan singkat. Hatiku langsung berdetak tak karuan.

Akupun semakin salah tingkah dibuatnya. Tiap hari pergi ke perpustakaan, mulai menjadi rutinitas yang tidak bisa kutinggalkan. Walau hanya bersapa saja sudah membuatku lega melihatnya. Suatu hari akupun tak bisa menenangkan gejolak hatiku. Aku ingin berbicara banyak dengannya. Akupun mencoba menyapanya dulu. “Halo, Kak! Lagi baca buku apa?” “Baca novel ini! ” sambil memperlihatkan buku yang bertulis “Mutiara Kasih” nampak dicover depannya. “Wah, aku pernah baca buku itu!” jawabku sambil melihat cover depan buku itu. “Oh ya! Aku suka novel ini. Membuatku teringat kenangan masa lalu!” katanya sambil memandang cover buku itu.

Aku pun penasaran mengenai hubungan buku itu dengan kenangannya. Hanya saja, aku tak punya hak untuk mengetahui lebih dalam. Aku hanya bisa terdiam melihatnya. Raut wajahnya mulai berubah yang tadinya tersenyum kini menjadi sayu. Sepertinya dia teringat akan masa lalunya. Ah, aku tak harus menanyakan itu tadi. Rasa bersalah mulai menggelayuti hatiku. “Ehm, maaf ya Kak. Pertanyaanku membuat kakak teringat masa lalu. Aku tidak bermaksud seperti itu. “Iya, tidak apa-apa! Jangan terlalu di fikirkan. Oh ya, kamu mau cari buku apa sekarang?” “Aku tadinya mau cari buku matematika. Aku bingung dengan logaritma. Tapi, aku tidak menemukan bukunya." “Oh, tadi ada adik kelas yang pinjam juga.

Mungkin stok bukunya sudah habis. Coba kamu tanyakan dulu sama penjaga perpustakaan, barangkali dia masih menyimpan buku yang kamu cari.” “Wah, terima kasih sarannya, Kak. Kalau begitu sekalian aku pamit mau pulang!” “Oke, sama-sama. Semoga bisa ketemu bukunya. Hati-hati di jalan ya!” “Iya, Kak!” aku berlalu meninggalkannya. Menuju penjaga perpustakaan yang tidak terlalu jauh darinya. Sambil menunggu penjaga itu mencari buku akupun memandang pujaan hatiku itu.

Rasa berkecamuk pun melanda bukan hanya ingin agar kakak bisa mengetahui perasaanku tapi juga mengenal lebih dalam sifatnya dan masa lalunya. Tapi sepertinya aku tak bisa menemukan seorang informan untukku. “Maaf, dek saya tidak menemukan buku yang kamu cari. Stok bukunya sudah habis!” “Oh ya sudah pak! Terima kasih, maaf merepotkan!” “Oke, tidak apa-apa!” jawab bapak penjaga perpustakaan sambil tersenyum ramah. Akupun lantas menjejakkan kaki pulang.

Ah, menyesal rasanya tadi menanyakan hal itu pada kakak. Membuatnya mengingatkan masa lalu yang hatiku bertanya-tanya dibuatnya. **** Keesokan harinya seperti biasa aku sudah berada di perpustakaan. Aku mencoba mencari buku matematika yang kemarin aku cari. Barangkali ada yang sudah dikembalikan. Jadi aku bisa belajar. Namun aku berputar mengelilingi ruangan tetap saja tidak melihat bukunya. “Masih belum menemukan bukunya?” Tanya seseorang dibelakangku.

Membuatku terperanjat kaget. Seketika kakak yang melihatku hanya tersenyum. “Iya, aku belum menemukan bukunya, Kak!” “ Memangnya ada tugas yang harus kamu selesaikan?” “Iya, tentang logaritma! Membuat kepalaku pusing! Akupun tak paham-paham diajarin. Padahal sudah berkali-kali diajarkan. Makanya aku mencari buku lain yang mungkin bisa memahamkan aku tentang materi ini!” “Bagaimana kalau aku ajarin saja! Barangkali aku bisa membantumu!” “Wah terima kasih Kak!” “Yuk, kita belajar di meja itu!” katanya sambil menunjuk kursi yang dekat dengan jendela. Kami berdua pun berjalan beriringan.

Aku dibelakangnya memandang punggungnya yang bidang sambil mencoba menata hatiku yang berdetak tak karuan. Kamipun mulai belajar hingga tak terasa jam menunjukkan 4 sore. Aku pun mulai paham logaritma. Ternyata kakak pintar sekali. Ah, membuatku jadi terpesona. Namun karena waktu telah sore akupun berpamitan dan mengucapkan terima kasih. ***** Pulang sekolah adalah hal yang aku tunggu mulai dari pagi. Pastinya ingin bertemu dengannya. Aku bukan hanya terkagum akan ketampanannya tapi juga hatinya yang baik dan ramah membuatku nyaman berlama-lama dengannya.

Semakin hari hatiku semakin besar menyimpan harapan. Namun aku takut untuk mengakui perasaanku. Melihatnya dan bercengkarama setiap hari di perpustakaan sudah mengobati rasa kangen dan perasaanku padanya. Ah, sungguh indah sekali waktuku bersamanya. Dengan langkah ringan aku ayunkan kakiku menuju tempat favoritku, perpustakaan. Sambil pura-pura aku mencari buku , pandanganku menusuri ruang mencari sosok yang aku idamkan. Namun, aku tidak menemukannya.

Hatiku mulai bertanya. Apakah dia tidak masuk?, sakit? Ataukah ada kegiatan diluar yang membuatnya tidak bisa berada di perpustakaan. Karena penasaran, akupun mendatangi penjaga perpustakaan. “Maaf Pak, kakak yang biasanya mengobrol dengan saya kemana ya? kok tidak kelihatan?” “Oh, maksutmu Sigit itu kan? Dia ada acara mewakili sekolah untuk olimpiade matematika di Sidney!” kata bapaknya sambil memandangku dengan tersenyum. Satu penasaranku terlunaskan sudah, ternyata namanya Sigit dan sekarang dia masih ikut Olimpiade. “Wah keren sekali! Berapa lama disana?” “Satu minggu!” “Lama sekali acaranya! Terima kasih pak infonya!” “Oke, bapak mau tanya. Apakah kamu suka sama dia?” “Eh, bapak ini bisa-bisa aja! Gak lah, Pak!” “Masak ? bapak gak percaya!” sambil memandang wajahku yang mulai bersemu merah. “Haduh pak! Jangan buat malu orang dong!” kataku sambil menutup wajah dan mencoba pergi dari hadapannya. “Kamu mau tahu masa lalunya?” kata bapak penjaga yang membuat langkah kakiku pun terhenti. Akupun membalikkan tubuh dan langsung menuju pada bapak penjaga.

“Memangnya ada apa dengan masa lalunya pak?” “Tuh, kan kamu penasaran? Berarti kamu beneran jatuh cinta kan!”katanya sambil meledek tingkahku. Akupun sadar telah dibuatnya. “Ah, bapak ini! sudah deh, kalau gak serius!” kataku sambil manyun. “Loh beneran! Bapak tahu masa lalunya dia!” “Memangnya kenapa, Pak?” tanyaku sambil memandangnya serius. Bapak itu mulai menerawang jauh. Mencoba mengingat masa lalu kakak yang aku kagumi. Akupun tak sabar ingin mendengarnya.

“Dulu, Setahun yang lalu Sigit punya teman cewek namanya Reni. Dia gadis kutu buku yang sering kali bersama dengannya membaca disini ”terang bapak penjaga perpustakaan itu. “Terus pak ?” tanyaku sudah tidak sabar melanjutkan cerita tentangnya.

“Katanya tidak suka, kok semangat banget buat dengerinnya ?”goda penjaga perpustakaan padaku. Membuat pipiku memerah merona “Tidak kok Pak, saya hanya kagum dengannya” ujarku untuk menutupi malu “Ya.. kagum itu sama dengan suka, kan ?”candanya lagi menggodaku.

Aku hanya diam memainkan tanganku sambil memandang kebawah.Suasana menjadi hening beberapa saat karena pengunjung perpustakaan saat itu hanyalah aku, jadi terasa begitu hampa. “Kenapa diam, dik? mau dilanjut tidak?” tawar Bapak itu. “Terserah Bapak saja” ungkapku sedikit kecewa. Namun ini kulakukan untuk menutupi rasa suka yang terlalu dalam. “Oke deh Bapak lanjut, biar kamu gak penasaran,” ucap Bapak itu menenangkan hatiku.

“Silakan dimulai Pak, Saya sudah siap untuk mendengarnya,” jawabku penuh semangat. “Jadi Sigit dan Reni itu adalah sepasang sahabat yang sangat akrab, mereka sangatlah kompak. Hingga suatu saat, mereka memutuskan untuk mengubah status mereka menjadi sepasang kekasih, dan beberapa bulan hubungan mereka berjalan harmonis. Namun ada satu hal yang mengubahnya menjadi tak karuan, Reni divonis mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening, membuatnya harus dioperasi dan menjalani kemoterapi.

Tetapi, hal itu tak membuahkan hasil. Akhirnya Reni meninggal dunia, dan kejadian ini membuat Sigit merasa sangat terukul. Kehilangan seorang yang amat ia cintai. hari-harinya pun jadi sering menyendiri diperpustakaan. Membuat saya iba melihatnya, namun dia bukan tipe yang terlalu larut dalam kesedihan, dia mengubah perasaan sedih itu seperti cambuk agar dia dapat lebih semangat untuk belajar dan mengejar masa depannya. Meskipun saya tahu, melupakan masa lalu itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Hal itu membuat saya salut padanya, dia selalu mendapat peringkat satu paralel dan dia juga aktif dalam organisasi seperti yang sudah kamu tau, pastinya.”

Terang Bapak itu membuat aku ragu, apa aku bisa mendekatinya dengan menghapus masa lalunya itu, atau aku mundur saja dan menjadikannya hanya mimpi dalam tidurku. Aku semakin bingung dengan kenyataan ini. "Hey, kenapa kamu melamun? udah sore, kamu tidak pulang? ” tanya Bapak penjaga perpustakaan yang membuyarkan kegelisahan dalam lamunanku. “Oh ya, Pak saya pamit pulang dan terima kasih,” ucapku sambil mengulurkan tangan. "Oke sama sama. Hati-hati ya, jangan ngalamun nanti kesambet loh.” Jawab bapak itu sambil menerima uluran tanganku.

Akupun melangkah keluar perpustakaan dan hendak menuju rumah. Di sepanjang jalan, aku berjalan sendirian. Karena temanku yang lain pasti sudah pada pulang. Sambil mengingat cerita tentang Bapak itu membuatku semakin ragu untuk mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya ini. Aku tidak tau harus berbuat apa, gerutuku dalam hati sambil memonyongkan bibir.

Hatiku gelisah tak kunjung menemukan ide apa yang harus kulakukan untuk membangun mimpi bersama pangeranku atau mengganggapnya hanya bunga tidur saja. Tidak terasa aku sudah sampai didepan rumahku. ***** Seminggu belakangan ini, aku tidak menyempatkan diri untuk keperpustakaan lagi. Pastinya karena suatu alasan. Ya, alasan itu karena pangeranku sedang tak ada di sekolah, dan kabar yang terdengar bahwa dia berhasil mendapat juara Harapan 2.

Hari ini dia akan kembali bersekolah. "Uh, betapa tidak sabarnya aku untuk segera bertemu dengannya meski hanya untuk mengucapkan selamat itu pun cukup mengobati rinduku selama seminggu ini," ujarku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri tidak jelas. Tak kuduga kakiku mengarahkanku di depan pintu perpustakaan. Kutengok didalamnya, tak kulihat sosoknya kali ini. “Apa mungkin dia belum kesini?” tanyaku dalam hati.Namun, tak mengurungkan niatku memasuki perpustakaan, dan sekarang kakiku telah berada didalamnya menuju rak dengan setumpuk buku.

Aku terkejut ketika seseorang bangkit dari bawah meja. Nampaknya ia baru saja membenarkan tali sepatunya yang lepas, pantas saja aku tak melihatnya dari luar. Hatiku jadi berdebar tak karuan ketika dia sadar bahwa aku mengamatinya, kemudian dia memberiku senyum lalu kubalas, dan akupun bergegas menghampirinya. “Hey kak, udah balik nih." Salamku memulai pembicaraan. “Iya nih, baru sampe tadi malem," jawabnya ramah sekali. "Hah? gak capek kak?” tanyaku sedikit kaget. Secara dari luar negeri baru sampai tadi malam sudah masuk sekolah, super sekali nih cowok.

“Capek sih, tapi udah kangen sama sekolah, ya mau gimana lagi?” jawabnya santai dengan senyumnya yang membuatku semakin berdebar. "Iya deh. Oh ya kak, selamat ya udah bawa nama sekolah ke Internasional.” Ujarku sambil mengulurkan tangan. “Iya makasih ya, tapi aku tidak menang kok,” jawabnya membalas uluran tanganku. Membuat hatiku semakin mendidih, dan jantungku terasa berdetak lebih cepat. Kemudian kembali normal ketika jabat tangan itu terlepas. “Uh, selamet” ucapku sambil membuang nafas.

“Selamet apalagi, kok pake buang nafas segala?” tanyanya membuatku semakin tersipu. “Ya, selamet kak meskipun tidak menang tapikan udah banggain nama sekolah, tingkat Internasional lagi," jawabku mencari alasan. “ Oh, sekali lagi makasih ya. Eh kamu udah bisa belum logaritmanya?" Ujarnya dilanjutkan menanyaiku. “Udah kok, makasih ya udah diajarin,” jawabku senang. “O..yaudah. Kamu mau ke kantin tidak, aku mau kesana nih, mau ikut?” “Ikut? Emang boleh?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi. “Ya kalo mau, boleh aja!” jawabnya santai. "Oke ikut deh!” jawabku senang.

Kamipun langsung keluar menuju kekantin yang letaknya cukup jauh dari perpustakaantakan. Jadi sepanjang jalan kami sempatkan untuk ngobrol santai. “Eh, ngomong-ngomong nama kamu siapa yah? udah sering ngobrol kaga tau nama kamu,” tanya dia memulai pembicaraan. “Oh iya ya Kak, sampe lupa namaku Siti, Kak,” jawabku. “Oh Siti, kalo aku Sigit," jawabnya dengan senyum.

“Kalo nama kakak aku udah taulah, secara gitu loh.” Ujarku sekenanya. “Secara apaan maksudnya?”tanyanya bingung. "Secara kakakkan populer disekolah ini,” jawabku tanpa jeda. Entah setan apa yang merasukiku sampai aku bisa bicara seperti itu.

“Oh, tidak juga kali. Aku cuma siswa biasa kok. Kamu tuh yang populer,” ucapnya merendah, disambung memujiku. “Populer apaan, Logarima aja kaga nyantol-nyantol, Kak!” Jawabku. “Jangan gitu, waktu kamu baca puisi itu hebat, loh.” Pujinya membuatku menatapnya tajam.

“Loh Kakak beneran lihat Siti baca puisi?” tanyaku mencoba meyakinkan diri. “” Iya, isi puisi dan cara bacamu keren! Top deh!” katanya memujiku sambil mengacungkan 2 jempol tepat dihadapanku dengan memberikan senyuman yang membuatku meleleh. Aku masih terdiam tidak bisa menanggapi pujiannya karena, hatiku terlampau senang. Hanya bibir yang tersenyum sambil langkah kaki berjalan ke kantin. Sampai kami tiba dikantin dan pesananpun datang. Kami mengobrol sambil menikamtai bakso yang ada di hadapan kami. "Ngomong-ngomong kamu suka sastra ya?”

“Iya gitu deh Kak, masih abal-abal kok,!” “Kok abal-abal sih, waktu itu cara kamu membaca bagus sekali, seperti mengungkapkan perasaan yang dalem." Pujinya membuatku hampir tersedak, lalu aku segera meminum minumku dari sedotan. “Emang keliatan gitu kak?” tanyaku malu. "Ya aku sih liatnya gitu, emang buat siapa sih? buat pacar kamu yah?” godanya membuat detak jantungku semakin kencang. “Aku gak punya pacar kok Kak!” jawabku sekenanya sambil meneruskan makan.

“Terus, gebetan?” tanyanya lagi. Aku hanya memberi anggukan yang berarti iya. “Sekelas?” Tanya dia lagi. Ini membuat jantungku semakin berdetak. Aku mencoba menguasai dan mengendalikan hatiku agar tidak keceplosan “Tidak kok,” jawabku dengan nada sok tenang. “Oh, berarti satu sekolah?” tanyanya lagi semakin memicu jantungku. “Mm.. bisa jadi, Kak!” jawabku sedikit ragu.

“Oh siapa, boleh tau?” tanyanya yang semakin menjadi. Aku hanya diam saja tak mengeluarkan kata sedikitpun. “Halo, kamu kenapa? Kalo tidak boleh tau tidak papa kok,” ujarnya sambil menggerakkan jari tangannya di depan wajahku. “Em.. tidak papa kok kak, emang kakak pengen tau?” tanyaku memancing. "Ya, kalo boleh. Kalo tidak juga tidak papa,” jawabnya sambil mengunyah makanan. "Yakin, kakak mau tau?” tanyaku memastikan. “Terserah kalo kamu gak mau kasih tau, tidak papa.” Jawabnya santai. “Oke, berhubung malas cerita, jadi tidak aja ya hehe” jawabku berusaha tenang. Namun, ada rasa kecewa karena gagal untuk mengutarakan isi hatiku yang sudah lama terpendam ini.

“Oke, aku udah selesai nih kamu udah belum?” tanyanya sambil meletakkan sendok dan garpu dalam mangkoknya dengan posisi dibalik. “Udah kok, mau langsung pulang?” tanyaku. “Oh tidak, aku masih ada rapat OSIS, Sit!” Jawabnya untuk pertama kali memanggil namaku. “Oh yaudah, kalo gitu aku pamit pulang duluan yah, kak.” Jawabku sembari bangkit dari kursiku. “Oke, hati hati yah, Sit.” Ujarnya bersamaan jabat tangan untuk kedua kalinya. Akupun berjalan meninggalkannya menuju gerbang dan mengarahkan kakiku pulang kerumah. Nampak keoren-orenan cahaya diatas cakrawala sana.

Pukul 17:00 tertera di layar handponeku. Aku masih menyusuri rasa yang tak kunjung pudar. Yang masih bermain indah didalam kalbu. "Ah....." Batinku lelah. Aku menuju sungai yang persis terletak disamping rumahku. Dengan modal kertas, pulpen, dan botol, akupun duduk di tepinya. Nuansa air mengalir, terus menguak. Memberikan kerinduan yang teramat dalam kepada sosok pujaanku.

Dalam kehampaan, aku mencoba membuka hatiku. Meluapkannya pada kertas melompong yang kugenggam kuat. Bagaimana kabar langit yang mengesumba?. Atau aliran air yang tak juga berhenti?. Adakah hati yang terbuka untukku?. Atau kupaksa buka, agar aku dapat singgah. Ah, hidup ini kelam!. Terus-menerus rindu selalu memburu. Beralas hati yang terus menunggu. Wahai, kakak taukah hati letih nan lelah. Mencoba ungkapkan, namun tak kuasa. Aku tak cukup energy.

Kakak harusnya memang kucoba!. Kucoba kuburkan atau kugali semakin dalam. Namun, aku takut terluka. Saat hatimu tak juga pulang padaku. Wahai, kakak terimakasih atas waktu luar biasa. Ketika menjamur di perpustakaan atau ladang ilmu, yaitu sekolah. Semua membuatku mengerti, Arti suka yang kualami. Seakan semua bertahta. Namun satu yang kupilih kau, kak Sigit tercinta.

Kututup rindu bersamaan langit yang nampak pudar. Aku melipat kertas tersebut lalu kumasukkan dalam botol kemudian kuhanyutkan pada air yang tenang geraknya. Biarlah akan ia bawa kemana. Kuserahkan semua pada sang pemilik hati. Karena hanya Dialah, yang menentukan. Apakah kelak kita bersama, mendayung sungai dengan satu sampan. Ataukah nanti dengan sampan berbeda. Biarlah waktu yang berkehendak. *Tamat*

Note : Namaku Nadya Amalia, Lahir di Bandar Lampung 06 februari 1999, Nama akun Facebook adalah Nadya Amalia Ilyas,Nama akun Instagram adalah Nadya_amaliailyas,Nama akun email adalah nadyaamalia293@gmail.com,No.hp 08996581103.Prestasi menulisku adalah menerbitkan buku kumpulan puisi pertama karya ku yang berjudul PUISI CINTA SANG PENYAIR.

Untuk Kalian yang mempunyai hoby menulis bisa anda kirimkan tulisan anda ke kawannongkrong@gmail.com, infokyai tunggu tulisan kalian :) sukses gerakan Lampung Menulis ! ^,^

Biodata Nadya Amalia :
Nadya Amalia dilahirkan di Bandar Lampung,pada tanggal 6 Februari 1999 Anak pertama dari pasangan Abdulah Illyas dan Iroh Humairoh ini adalah Mahasiswi IAIN RADEN INTAN LAMPUNG yang kreatif. Pada tahun 2009 ,penulis menyandang Juara 1 Karate ,Lalu Juara 2 karate Kata perorangan Juara 2 karate komite tahun 2016. Sejak pendidikan dasar yang diselesaikan tahun 2010 pada SD NEGERI 1 KETAPANG,Tahun 2013 Lulus dari SMP NEGERI 11 Bandar Lampung,Lalu Tahun 2016 Lulus dari SMA NEGERI 6 Bandar Lampung.dan sekarang menjadi Mahasiswi di IAIN RADEN INTAN LAMPUNG Fakultas Tarbiyah Jurusan Bimbingan Konseling . Penulis banyak menghasilkan segudang prestasi,antara lain dalam bidang Organisasi tercatat sebagai ketua karate dan sekretaris karate ,Juara Nasional Terpilih cerita mini,Juara Kontributor Puisi,dll.Untuk bersilaturahmi penulis dapat ditemui pada alamat JL.Kh.Agus Anang no.30 kp.ketapang kelurahan ketapang,kecamatan panjang,Bandar Lampung.
Add Friend

Artikel Terkait

Comments
0 Comments